TERJEMAH
KITAB RISALAH AL MUAWWANAH
ALHABIB
ABDULLOH AL HADDAD
PRAKATA
Kitab
ini adalah KITAB TUNTUNAN AKHLAK terjemahan dari kitab asli
yang berjudul “RISALAH AL MUAWWANAH” karya AL IMAM QUTBIL IRSYAD
WA GHAUTSIL IBAD WAL BILAD ALHABIB ABDULLOH BIN ALWI ALHADDAD yang
terdiri dari 20 fasal. semoga dapat kita jadikan tuntunan akhlak agar kita
berakhlak sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW.
Adalah
semata mata masih banyak kekurangan karena penulis masih dalam tahap belajar
teriring niat tuk mengambil keberkahan dari IMAM HADDAD dan karya beliau ini
annalloha yanfauna biasrorihim wa anwarihim wa ulumihim fiddiniy waddunya wal
akhiroh,amin
FASAL
1
Aku
memohon kepada Allah agar dengan risalah ini memberikan manfaat kepadaku dan
kepada sekalian orang Mukmin , maka Aku katakan -Maka wajib bagi kamu semua
wahai saudaraku yang terkasih, untuk memperkuat keyakinanmu dan
mempercantiknya, karena sesungguhnya yakin apabila telah
menetap di hati dan meluas di dalamnya maka segala sesuatu yang ghaib akan
terlihat nyata bagimu dan pada yang demikian ini maka berkatalah orang-orang
yang yakin sebagaimana yang dikatakan Ali ra. wakarromaLlahu Wajhah ‘apabila
disingkapkan tabir, maka akan bertambahlah keyakinan’. Dan yakin sesungguhnya
adalah ibarat dari kekuatan iman yang meresap ke dalam jiwa yang menghilangkan
segala keragu-raguan sehingga di dalam hati sama sekali bersih dari keadaan
ragu-ragu dan cemas.. dan syaithan tidak akan mampu mendekat kepada mereka yang
hatinya dipenuhi dengan yaqin bahkan mereka akan lari
terbirit-birit mencari keselamatan. Sebagaimana yang disabdakan RasuluLlah
SAW “Sesungguhnya syaithan menjauh dari bayang-bayang Umar. . tidaklah
sekali-kali Umar melewati suatu jalan, sedang syaitan pasti melewati jalan yang
lainnya–agar tidak berpapasan.
Dan
yakin akan menjadi kuat dengan beberapa sebab diantaranya
1.
Hendaknya hamba Allah mencurahkan segala perhatiannya dan hatinya dan
memperhatikan dengan telinganya untuk mendengarkan ayat dan hadis yang
menunjukkan kebesaran Allah Azza wa Jalla dan kesempurnaanNya,
dan keagunganNya, dan kekuasaanNya dan kesendirianNya dalam mengatur urusan
semua makhluk, dan kekuasanNya, serta memperhatikan akan kebenaran para Rasul
As. Dan kesempurnaan mereka, dan terhadap apa-apa yang menguatakn risalah
mereka dari beberpapa mukjizat, demikian juga memperhatikan mereka yang
mendustakan Rasul hingga mereka mendapat siksa dari Allah ,
dan memperhatikan dengan segenap hatinya apa yang akan datang kelak di hari
akhirat berupa pahala yang bagus dari Allah yang dijanjikan
bagi hambanya yang beriman dan berbuat kebajikan, demikian juga siksa yang akan
dihadapi orang-orang yang berbuat maksiat –Firman Alah ‘Apakah belum
cukup sesungguhnyan Kami turunkan kepada kamu Al-Kitab yang dibacakan kepada
mereka.
2.
hendaklah engkau melihat dengan i’tibar pada kerajaan langit
dan bumi dan apa yang diciptakan Allah dari ciptan-ciptaan
yang sangat ajaib. Dan memperhatikan permulaan adanya segala yang diciptakan. –‘Dan
akan Aku perlihatkan kepada mereka ayat-ayatKu di alam raya dan juga pada diri
mereka hingga tampak jelas bahwasanya Allah Maha Benar’.
3.
Hendaklah mengamalkan apa saja yang sesuai dengan keimanannya lahir bathin dan
memperlihatkan ketaatan kepada Allah Azza Wa Jalla –‘Dan
bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh mencariKu niscaya akan Aku tunjukkan
jalanKu’.
Dan
buah dari yaqin adalah tanangnya hati akan janji Allah dan
mantap dengan apa-apa yang sudah ditanggung oleh Allah dan
menghadap dengan segenap jiwa raganya dan meninggalkan segala yang
menyibukkannya dari Allah dan kembali pada setiap kesempatan
kepada Allah dan mencurahkan tenaga untuk mencari ridho Allah .
maka Yaqin sesungguhnya adalah dasar/pokok. Sedangkan segalamaqoomaat yang
mulia , dan akhlak yang terpuji, dan amal sholih, adalah
termasuk cabangnya, dan buahnya, sedangkan alkhlak dan amal adalah mengikuti
yaqin dalam hal kuat dan lemahnya serta sehat dan sakitnya.
Luqman
As. telah berkata, “tidaklah amal akan terjadi kecuali setelah adanya yaqin.
Dan tidak sekali-kali seorang hamba beramal kecuali sesuai dengan kadar
keyakinannya. Dan ytidaklah sseorang hamba mengurangi amalnya hingga
berkuranglah keyakinannya.. Dari itu RasuluLlah SAW bersabda,
“Al-Yaqiin, adalah iman seluruhnya. Dan bagi orang yang beriman, ada tingkatan
yaqiin yaitu
Derajad Ashabil
Yamiin yaitu
1.
Pembenaran mereka akan tetapi masih dimungkinkan mereka terserang ragu-ragu.
2.
Derajad Muqorrobiin yang mana imannya telah bersinar dalam
hati mereka dan menetap di dalamnya sehingga tidaklah tergambar di dalamnya
akan cacat imannya itu, bahkan akan tampak berlimpah di dalam dadanya.
3.
Derajat Nabiyyiin yaitu derajad para Nabi AS. Dan para ahli
warisnya yaitu paraShiddiqiin dimana bagi Mereka sesuatu yang Ghaib
adalah tampak nyata adanya. Dan dapat memberikan i’tibarnya dengag
tersingkapnya tabir / kasyf .
Fasal 2
Dan wajib bagi kamu wahai saudaraku, untuk memperbaiki
niat dan mengikhlaskan niat tersebut dan bertafakur akan niatmu sebelum
engkau memasuki amal/sebelum mengerjakan sesuatu amal ibadah. Karena sesunggunya niat itu adalah pondasi atau dasar
daripada amal. Dan amal mengikuti niat Mengenai baik dan buruknya, rusak
dan selamatnya dll. . dan sungguh telah bersabda RasuluLlah SAW, Sesungguhnya
amal itu tergantung niatnya . dan bagi setiap manusia tergantung dari
apa yang ia niatkan. .
Dan wajib juga bagi kamu semua,
untuk tidak mengucapkan suatu perkataan atau tidak mengamalkan suatu amal
perbuatan atau berkehendak mengerjakan sesuatu apapun kecuali niatmu dalam hal
itu semua adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mencari pahala
yang baik di sisiNya. Dan ketahuilah sesungguhnya tidak akan
dapat terjadi pendekatan diri kepada Allah Ta’ala kecuali dengan apa
yang telah disyari’atkan oleh Allah melalui Lisan RasulNya dari
beberapa perbuatan fardhu, dan sunnah, .
Maka menjadilah perbuatan yang mubah
akan tetapi karena niatnya baik, maka perbuatan itu menjadi sebab mendekatnya
diri kepada Allah. Seperti orang yang ketika makan ia berniat untuk
mendapatkan kekuatan dalam menjalankan ta’at kepada Allah Ta’ala atau
ketika menikah diniatkan untuk mendapatkan keturunan yang nantinya mereka akan
menjadi orang yang ahli beribadah kepada Allah. Dan disyaratkan di dalam
niat yang baik dimana harus dilanjutkan dengan amal perbuatannya. Misal orang
yang mencari ilmu dan ia bercita-cita akan mengamalkan ilmunya, maka apabila ia
tidak mengamalkan ilmu yag telah pernah diperolehnya ketika dia mampu untuk
mengamalkannya, maka niatnya yang demikian itu bukanlah niat yang benar / niyatushoodiqoh.
Demikian juga orang yang mencari harta dunia dengan niat agar ia tidak
merepotkan orang lain, dan mnyedekahkannya kepada orang yang membutuhkan dari
orang-orang yang miskin, atau untuk mempererat silaturrahmi dengan hartanya
itu, apabila ia tidak melaksanakannya apa yang ia niatkan ketika dia mampu maka
niat yang demikian ini bukanlah termasuk niat yang benar atau niat yang Shoodiqoh.
Dan ketahuilah bahwa niat yang baik itu tidak dihitung dalam amal perbuatan
yang buruk misalnya orang yang ikiut mendengarkan pembicaraan ghaibah kepada
sesama muslim yang mana dalam mendengarkannya tersebut dia berniat untuk
menyenangkan hati orang yang sedanng ghaibah / membicarakan aib saudara
se muslim, maka niatnya yang demikian ini bukanlah niat yang baik bahkan ia
termasuk salah seorang diantara yang ikut ghaibah tersebut.
Dan barangsiapa yang diam diri dari amar
ma’ruf dan nahiii munkar dan dia mendakwakan bahwa niatnya itu agar tidak
menyakiti hati orang yang melaksanakan perbuatan munkar, maka niat yang
demikian ini bukanlah termasuk niat yang baik bahkan ia termasuk juga ke dalam
golongan yang mellaksanakan kemungkaran. Demikian juga perbuatan yang baik,
tetapi niatnya tidak baik juga tidak akan menghasilkan pahala yang baik di sisi
Allah seperti orang yang melakukan amal salih akan tetapi niatnya untuk
mendapatkan kedudukan atau biar dipuji oleh orang lain atau untuk mendatkan
keuntungan materi. Maka bersungguh-sungguhlah wahai saudaraku, agar niatmu
dalam melakukan amal salih sebatas untuk mendekatkan diri kepada Allah dan
mencari keridhoan Allah dan niatkanlah semua amal yang dibolehkan / Mubaahat
hanya untuk menambah ketaatan kepada Allah Ta’ala. Dan ketahuilah
sesungguhnya bisa terjadi juga satu amal shaleh di niatkan dengan beberapa niat
yang baik dan mendapatkan pahala secara sempurna dari tiap-tiap niat tersebut
semisal orang yang membaca Al-Qur’an dia niatkan untuk bermunajat kepada
Rabb nya, atau ia niatkan agar orang yang mendengarkannya mendapat
faidah atau manfaat dari apa yang ia baca. Dan semisal perbuatan mubah
dalam hal makan, dimana ia niatkan dalam makan tersebut untuk menjalankan
perintah Allah karena Allah telah berfirman di dalam Al-Qur’anul
Kariim Wahai orang-orang yang beriman, makanlah kamu sekalian dari rizki
yang baik yang Aku berikan kepada kamu semua. Dan berniat pula dalam
memakan makanan adalah untuk mendapatkan kekuatan dalam menjalankan ta’at
kepada Allah dan juga dapat diniatkan pula untuk melahirkan rasa syukur
kepada Allah sesuai dengan firman Allah di dalam kitabNya makanlah
kamu sekalian dari rizki yang diberikan kepadamu dan bersyukurlah kepadaNya.
Bersabda RosuuluLlah SAW
-Sesungguhnya Allah mencatat perbuatan baik dan buruk……dan selanjutnya
RasuluLlah SAW menerangkan bahwa -barang siapa mempunyai tujuan baik sedangkan
ia tidak melaksanakannya maka Allah mencatat di sisiNya sebagai satu amal
kebaikan yang sempurna. Dan barang siapa yang mempunyai niat baik juga ia
melaksanaknnya maka Allah mencatatnya sebagai 10 kebaikan sampai 700 kebaikan
bahkan sampai berlipat dengan kelipatan yang banyak. Dan jika ia berniat
keburukan akan tetapi tidak mengamalkannya, maka dicatatlah ia sebagai satu
kebaikan, dan apabila ia mengamalkannya maka hanya dicatat sebagai satu
keburukan saja.
FASAL
3
Dan wajib bagi kamu wahai saudaraku
untuk selalu bermuroqobah kepada Allah Ta’ala dalam segala gerak dan
diammu dan pada setiap kedipan matamu dan pada setiap kehendakmu dan gurisan
hatimu dan dalam segala Keadaanmu dan kesadaranmu akan kedekatanNya kapadamu
dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Dia selalu melihat dirimu dan mengetahui
segala ihwalmu dan tidak ada yang tersembunyi bagiNya segala sesuatu yang ada
pada dirimu meskipun hanya sebesar zarrah baik itu di bumi maupun di langit .
dan jikalaupun engkau mengeraskan suaramu ataupun melembutkannya maka
sesungguhnya Dia Maha mengetahui segala sesuatu yang sangat samar dan
tersembunyi. Dan Dia selalu bersamamu di mana saja kamu berada dengan ilmuNya
dan peliputanNya Jika engkau termasuk orang yang bagus, maka malulah kepada
Tuhanmu dengan sebenar-benarnya malu dan bersungguh-sungguhlah agar Ia tidak
meluhatmu pada tempat yang sekiranya Dia melarangmu, Dan berusahalah selalu Ia
mendapatimu ketika Ia memerintahkan sesuatu kepadamu. Dan sembahlah Ia
seakan-akan engkau melihatNya dan manakala engkau jumpai dirimu merasa malas
mengerjakan ketaatan kepadaNya atau condong kepada bermaksiyat kepadaNya maka
ingatlah bahwa sesungguhnya Allah mendengarmu dan melihatmu dan mengetahui
rahasiamu dan ketersembunyianmu. Apabila hal yang demukian belum berhasil
membangkitkan semangatmu untuk ta’at kepadaNya disebabkan karena sedikitnya ma’rifatmu
kepadaNya akan kebesaran Allah, maka ingatlah akan adanya dua malaikat yang
sangat mulia yang keduanya mencatat kebaikan dan keburukan amal. Apabila yang
demikian itu masih belum memberikan efek, maka langkah selanjutnya adalah
ingatlah akan dekatnya maut atau kematian dimana maut
adalah sesuatu yang paling dekat diantara yang terdekat yang selalu menanti dirimu
dan takutlah akan hal yang demikian. Apabila pentakutan yang demikian ini belum
juga berhasil menggerakkan dirimu untuk ta’at kepada Allah maka peringatkanlah
dirimu dengan janji-janji Allah yang akan diberikan kepada orang yang ta’at
kepadaNya dari beberapa pahala yang sangat besar dan ingatlah juga akan
janjiNya yang disediakan bagi orang-orang yang durhaka kepadaNya dari beberapa
azab yang sangat menyaktkan dan katakanlah kepada dia (nafsumu) wahai nafsu,
tidak ada sesuatu setelah kehidupan dunia kecuali surga atau neraka., maka
pilihlah untuk dirimu sendiri jika engkau menginginkan ta’at maka akibatnya
adalah keselamatan dan keridhoan dari Allah dan abadi dalam kenikmatan surga
dan memandang kepada wajah Tuhanmu yang maha Mulia. Dan jika engkau menginginkan
yang lain maka bermaksiyatlah kepada Allah maka akhir yang akan engkau dapatkan
adalah kehinaan dan kemarahan dari Tuhanmu dan tinggal abadi di dalam neraka.
Jika yang demikian ini telah engkau lakukan maka akan hilanglah keinginan
nafsumu untuk berdiam diri tidak melakukan ta’at kepada Tuhannya. Maka
sesungguhnya yang demikian ini merupakan obat yang sangat bermanfaat bagi hati
yang mengalami sakit . selanjutnya jika hatimu telah sadar bahwa Allah Ta’ala
selalu melihatmu maka hatimu akan merasa malu untuk berlawanan dengan
kehendaknya dan hatimu akan membimbngmu untuk ta’at kepadaNya dan yang demikian
ini hatimu telah mulai bermuroqobah kepadaNya.
Dan ketehuilah sesungguhnya muroqobah
adalah termasuk mqoomat/kedudukan yang sangat mulia dan termasuk
kedudukan yang tinggi dan setinggi-tingginya derajat dan dia/muroqobah
adalah maqom ihsan dimana RasuluLlah SAW telah memberi isyarat dalam
sabdanya bahwa Al-ihsan adalah apabila engkau menyembahNya seakan-akan
engkau melihatNya. Dan apabila engkau tidak dapat melihatNya maka ketahuilah
bahwa sesungguhnya Ia melihatmu. Dan setiap hamba yang beriman akan yakin
dan percaya bahwa bagi Allah tidak ada sesuatupun yang tersembunyi baik di
langit maupun yang di bumi dan mereka mengetahui bahwa Allah selalu menyertainya
di mana saja, dan tidak ada yang tersembunyi bagi Allah dari segala gerak dan
diamnya seorang hamba. Akan tetapi buah yang sedemikian ini akan dapat
diperoleh dengan jalan mula-mula ia tidak melakukan amal perbuatan antara ia
dengan Allah yang menyebabkan ia malu apabila amal ada orang saleh melihat apa
yang ia lakukan tersebut . dan yang sedemikian ini adalah perbuatan yang mulia,
dan dibalik semuanya adalah lebih mulia lagi, saampai seorang hamba hingga pada
akhir umurnya tenggelam ke dalah HadratuLlah Ta’ala dan dia hilang/fana
dari yang selain Allah. Dan sungguh baginya telah hilang pandangannya akan
semua makhluk dikarenakan terpananya pandangannya kepada kebesaran Allah yang
Maha Haq. Dan ia telah benar keyakinannya dihadapan Sang Raja yang maha kuasa.
Dan wajib untukmu wahai saudaraku untuk selalu memperbaiki daen memperbagus
bathiniahmu agar lebih baik daripada lahiriahmu. Yang demikian itu dikarenakan
bahwa yang bathiniah adalah tempat Allah melihat seorang hamba sedangkan
lahiriah adalah tempat yang dilihat makhluk. . dan apa yang dijelaskan Allah di
dalam kitabnya yang mulia / Al-Qr’an tentang masalah lahir dan bathin, maka
Allah lebih mula menyebutkan kata bathin daripada lahir –berarti bathin
lebih utama- sebagaimana do’a RasuluLlah SAW Yaa Allah jadikanlah
bathiniahku lebih baik dari lahiriahku, dan jadikanlah lahiriahku dalam keadaan
bagus. Dan manakala bagus bathiniah, maka akan bagus jugalah keadaan
lahiriah tidak boleh tidak. Karena sesungguhnya yang lahir selamanya mengikuti
yang bathin dalam hal baik dan buruknya. RasuluLlah SAW telah bersabda sesungguhnya
di dalam jasad ada segumpal darah, apabila ia baik maka baiklah seluruh jasad,
dan apabila ia buruk maka akan buruklah seluruh jasad. Ketauhilah sesungguhnya
dia adalah hati. Dan ketahuilah apabila ada seseorang yang
mengaku /mendakwakan bahwa kondisi bathinnya telah bagus akan tetapi
lahiriahnya rusak dengan meninggalkan ketaatan kepada Allah, maka apa yang ia
dakwakan tersebut adalah bohong belaka. Dan barang siapa yang bersungguh-sungguh
memperbaiki/membeguskan lahiriahnya dengan mempercantik penampilannya,
pembicaraannya, demikian juga mempercantik gerak geriknya , dan cara duduknya ,
dan cara berdirinya, dan cara ia berjalan, akan tetapi ia membiarkan
bathiniahnya dalam keadaan yang buruk dengan akhlak yang buruk pula serta
dengan tabiat yang kotor, maka ketahuilah bahwa ia termasuk min ahlil
Tashonnu’ /orang yang suka di buat-buat dalam hal tingkah lakunya,dan
termasuk orang yang riya’ dan orang yang termasuk berpaling dari Tuhannya. Maka
takutlah wahai saudaraku jika engnkau menutupi / menyembunyikan sesuatu apabila
orang banyak mengetahuinya niscaya engkau akan malu. Sebagian orang arifiin
berkata Seorang Sufi belum termasuk golongan para Sufi hingga
seandainya seluruh isi hatinya ditaruh dalam sebuah nampan dan di perlihatkan
di tengah pasar maka ia tidaklah malu jika semua orang melihat isinya. Jika
engkau tidak mampu membuat bathinmu lebih baik daripada lahiriahmu, maka
usahakan agar keduanya sama antara lahir dan bathinnya , maka apa yang engkau
lakukan dalam hal melaksanakan perintahNya dan menjauhi larangannNya dan dalam
mengagungkanNya, dan usahamu mencari keridhoanNya , semua itu dalam keadaan
sama (antara lahir dan bathinnya). Dan apa yang disampaikan ini adalah langkah awal
bagi orang yang melangkah jalan ma’rifat yang khos maka
ketahuilah yang demikian itu semoga Allah selalu memberi taufik.
FASAL
4
Dan wajib bagi kamu sekalian untuk
memakmurkan segenap waktumu dengan berbagai macam amal ibadah sehingga tidak
ada waktu yang kosong baik malam maupun siang kecuali engkau isi dengan
berbagai amal kebajikan. Maka dengan demikian akan terlihatlah bagimu berkah
waktumu dan akan menghasilkan faidah yang besar dari umurmu, dan kelanggenganmu
dalam menghadap kepada Allah Ta’ala. Dan seyogyanya engkau jadikan waktu
tersendiri untuk kebiasanmu sehari-hari seperti makan dan minum dan pergi
bekerja. Dan waktumu adalah umurmu, dan umurmu adalah modal hidupmu dan dengan
waktumu itulah engkau mulai berniaga-untuk akhirat yang akan mengantarkanmu
kepada kebahagiaan yang abadi di dalam kedekatan dengan Allah. Maka setiap
nafas dari seluruh nafas adalah mutiara yang tidak terhitung nilainya, dan
apabila telah lewat –nafas itu- maka tidak ada gantinya. Dan tidak
seharusnya engkau menggunakan seluruh waktumu dengan hanya satu wirid
meskipun wirid tersebut termasuk wirid yang utama. Karena yang demikian
itu akan menghilangkan berkahnya banyaknya bilangan bermacam-macam wirid..
karena pada setiap wirid mempunyai efek sendiri-sendiri di dalam hati.
Dan mempunyai nuur dan keistimewaan tersendiri dari Allah. Dan
ketahuilah sesungguhnya bagi tiap-tiap wirid memiliki bekas yang
bermacam-macam yang berguna untuk membersihkan hati dan memperbaiki tingkah
laku lahiriah , dan jika engkau tidak termasuk orang yang dapat mencurahkan
semua waktumu untuk melakukan wirid, maka pilihlah pada waktu-waktu yang
khusus/tertentu dan engkau bayar pada waktu yang lain apabila engkau sempat
meninggalkannya –pada waktu yang telah ditentukan tersebut, yang demikian ini
untuk mendidik nafsu dalam berdisiplin menjaga amalan wirid tersebut.
Sayyidy Syaikh Abdurrahman as-Saqaf
telah berkata,”man lam yakun lahu wirdun fahuwa qirdun yang
artinya-barang siapa yang tidak memiliki wirid maka ia tak ubahnya seperti
kera-. Dan telah berkata sebagian orang ‘aarfiin (orang yang sangat
mengenal Allah) , “Al-Waarid (sesuatu yang datang dari Allah – seperti
ilham dll) itu tergantung dari Wirid. Maka barang siapa yang tidak
memiliki Wirid pada dhahiriahnya, maka tidak akan ada wariid pada
bathiniahnya/sirrnya. Dan wajib bagimu untuk selalu jujur dan
selalu adil dalam segala hal dan laksanakanlah amal yang sekiranya engkau dapat
melanggengkannya / mudawwamah dan sungguh telah bersabda RasuluLlah SAW amal
yang paling disenangi/dicintai Allah adalah yang terus menerus meskipun hanya
sedikit. Dan RasuluLlah SAW juga telah bersabda ambilah dari amal apa
yang engkau rasa mampu kaena sesungguhnya Allah tidak akan berpaling hingga
mereka berpaling. Dan sebagian dari kebiasaan syaithan dala menipu
murid/orang yang sedang belajar menempuh jalan Allah, adalah mengajak mereka
bergegas melakukan amal yang banyak dan tujuan syaithon dari yang demikian ini
adalah agar kelak mereka)para murid) meninggalkan amal baik tersebut pada
akhirnya, atau melakukannnya akan tetapi tidak sesuai dengan tuntutanyang
seharusnya. Maka kemudian dari beberapaa aurad / wirid /zikir, yang
dapat engkau lakkukan adalah memperbanyak shalat sunah, membaca Al-Qur’an, atau
membaca ilmu, atau bertafakur. Kemudian kami terangkan beberapa adab, oleh
karena itu seyogyanya bagi kamu memiliki wirid semisal shalat sunnah
sebagai tambahan dari shalat-shalat sunah yang lain, yang ditentukan waktunya
dan di dikira kirakan jumlahnya sekiranya akan dapat dilakukan secara terus
menerus. Dan sungguh sebagian para Ulama salafushalih rahimahumuLlaah
telah melaksanakan shalat dalam sehari semalam sebanyak 1000 reka’at seperti Imam
Ali bin Husein ra. Dan sebagian dari mereka ada yang melaksanakan 500
reka’at, ada yang melaksanakan 300 reka’at dan lain sebagainya.
Dan ketahuilah sesungguhnya di bagi
amalan shalat ada bentuk lahir dan hakekat bathinnya. Dan
tiadalah shalat itu dihargai oleh Allah, hingga disempurnakan amaliah
lahiriahnya dan hakikat bathiniahnya. Adapun kesempurnaan bentuk shalat adalah
kesempurnaan rukun-rukunnya, dan etika/adab lahiriah dari berdirinya, pembacaan
Al-Qur’annya, dan ruku’ dan sujud dan tasbih dan sebagainya. Adapun hakekatnya
adalah hadir bersama Allah, ikhlasnya niat, dan menjadikan Allah sebagai tujuan
dan menghadap dengan kesungguhan kepada Allah demikian juga segenap hatinya
ditujukan kepada Allah, dan hendaknya pikirannya dikonsentrasikan / tidak
banyak memikirkan sesuatu maka dirinya tidak bercakap-cakap dengan selain
perkara shalat. Dan seyogyanya beradab sebagimana adabnya orang yang sedang
bermunajat/berbisik-bisik dengan Tuhannya . telah bersabda RasuluLlah
SAW, “sesunggunya orang yang shalat adalah orang yang sedang bermunajat kepada
Tuhannya. . dan Nabi SAW telah bersabda, “apabila seorang hamba berdiri
melaksanakan shalat, maka sesungguhnya Allah berhadapan dengannya dengan
wajahNya . dan sebaiknya ia tidak melaksanakan shalat shalat sunnah
yang lain seginga ia telah melaksanakan amal sunnah yang telah dianjurkan oleh
Nabi SAW secara sempurnna , diantara shalat sunnah yang dianjurkan itu antara
lain beberapa rekaat sebelum shalat maktubah/shalat wajib yang 5 waktu ataupun
beberapa rekaat sedudahnya, dan diantaranya juga shalat witir yang termasuk
shalat sunnah muakkad bahkan sebagian ulama mewajibkannya. RasuluLlah SAW telah
bersabda.-Sesungguhnya Allah Ta’ala ganjil dan senang dengan yang ganjil
maka berwitirlah kamu semua wahai ahli Al-Qur’an. Dan RasuluLlah SAW
bersabda sesungguhnya witir adalah sesuatu yang haq/benar maka barang
siapa yang tidak berwitir maka bukanlah golongan kami. Dan banyaknya
bilangan reka’at shalat witir adalah 11 reka’at sedangkan yang paling sedikit
adalah hendaklah meringkas sampai tiga reka’at adapun pengerjaannya adalah pada
akhir waktu malam bagi orang yang membiasakan diri mengerjakan shalat malam.
RasuluLlah SAW bersabda Jaadikanlah akhir shalat kamu sekalaian dengan
shalat witir. Dan bagi orang yang tidak memiliki kebiasaanmegerjakan shalat
malam / qiyamul lail maka lebih utama mengerjakannya setelah habis
shalat Isya .
Dan termasuk shalat sunah yang
dianjurkan Nabi SAW adalah shalat dhuha dan dia/shalat dhuha adalah
shalat yang banyak sekali manfaat dan barokahnya. Banyaknya bilangan reka’at
adalah 8 reka’at dan ada pula yang mengatakan 12 reka’at. Dan paling sedikitnya
adalah 2 rekaat. Telah bersabda RasuluLlah SAW hendaklah kamu sekalian
menjadikan seluruh anggota badan sebagai sedekah. Maka sesungguhnya setiap tasbih
adalah sedekah, dan setiap tahmid adalah sedekah, dan setiap tahlil adalah
sedekah, dan setiap takbir adalah sedekah, dan setiap amar ma’ruf adalah
sedekah, dan nahi mungkar adalah sedekah. Dan telah mencukupi dari yang
demikian itu semua 2 reka’at yang dilakukan pada waktu dhuha. Dan
trermasuk shalat yang dianjurkan adalah shalat antara Maghrib dan Isya’.
Adapun banyaknya adalah 20 rekaat, dan yang sedang adalah 6 reka’at.
RasuluLlah SAW telah bersabda Barangsiapa yang megerjakan shalat 2 reka’at
antara dua Isya’ maka Allah akan membangunkan baginya rumah di dalam
surga. Dan RasuluLlah bersabda Barang siapa mengerjakan shalat sunah
setelah maghrib 6 reka’at dimana diantara keduanya dia tidak bercakap-cakap
dengan sesuatu yang buruk maka yang demikian itu menyamai baginya dengan
beribarah selama 12 tahun dengan menghidupkan saat antara maghrib dan isya’.
Dan sungguh telah datang banyak keterangan tentang fadhilah atau keutamaan
shalat diantara Maghrib dan Isya’ dan akan mencukupililah
keterangan berikut ini yaitu bahwasanya Ahmad bin Abil Hawary ketika
bermusyawarah dengan syaikhnya Abaa Sulaiman RohimahumaLloh, apakah lebih baik
ia berpuasa pada siang hari ataukah mendirikan shalat diantara waktu maghrib
dan isya’, maka syaikh Abaa Sulaiman berkata, “kumpulkanlah keduanya-artinya
laksanakan keduanya-. “. Kemudian ia bertanya lagi, “aku tidak mampu
melaksanakan keduanya, karena apabila aku berpuasa maka aku akan disibukkan
dengan berbuka puasa pada saat itu”. Maka Syaikh Abaa Sulaiman menjawab, ”
jikalau engkau tidak mampu untuk mengumpulkan keduanya, maka tinggalkanlah
puasa dan hidupkanlah shalat diantara dua ‘Isya’ (antara maghrib dan isya’)”.
Sayyidatina ‘Aisyah RA berkata, “tidaklah masuk RasuluLlah SAW ke
kediaman saya setelah shalat Isia’ yang akhir kecuali beliau SAW melaksanakan
shalat empat reka’at atau enam reka’at dan Beliau SAW bersabda, “empat reka’at
yang demikian telah menyamai daripada Lailatul Qadar. Dan suatu
keharusan bagi kamu untuk mengerjakan Shalatul Lail /Shalat malam ,
sungguh telah bersabda RasuluLlah SAW, “Shalat yang paling utama setelah
shalat wajib adalah shalat malam”. Dan bersabda RasuluLlah SAW, “Keutamaan
shalat malam dibandingkan dengan shalat pada waktu siang hari adalah seperti
kelebihannya sedekah secara tersembunya dibanding dengan sedekah secara
terang-terangan”. Dan telah datang keterangan yang menyebutkan bahwa
keutamaan sedekah secara tersmbunyi dibanding dengan sedekah secara
terang-terangan adalah berlipat 70 lipatan dalam hal pahala dan keutamaannya.
Telah bersabda RasuluLlah SAW, “Bagi kamu sekalian untuk mengerjakan shalat
malam karena sesungguhnya shalat malam itu adalah amalan orang-orang shaleh
sebelum kamu sekalian, dan tempat bermuqorrobah bagi kamu sekalian kepada
Tuhanmu, dan saat bertafakur akan maksiat yang dilakukan, dan membersihkan dari
dosa, dan penolak penyakit dari jasad kamu sekalian”.
Dan ketahuilah sesunggunya orang
yang mendirikan shalat ba’da Isya’ adalah sungguh telah menghidupkan
seluruh malamnya. Dan telah terjadi pada sebagian Ulama salaf melaksanakan
amalan shalat pada Awwal malam hari. Akan tetapi pengerjaannya pada saat
setelah bangun tidur pada malam hari adalah lebih menghinakan syaithan dan
menjadi perjuangan nafsu / mujahadatunnafsi dan sirr / rahasia
yang sangat ‘ajaib , dia itulah shalat tahajjud dimana Allah telah
memerintahkan RasulNya SAW untuk mengerjakannya dengan firmannya, “Waminallaili
fatahajjad bihii naafilatallak “. “Dan pada sebagian maalm maka
bertahajudlah sebagai amalan sunnah bagi Kamu”. Dan sesungguhnya Allah Ta’ala
mencintai seorang hamba manakala ia bangun malam diantara keluarganya yang lain
yang sedang tidur lalu ia mengerjakan shalat dan Allah memamerkannya kepada
MalaikatNya dan Allah menghadapinya dengan WajahNya yang Mulia.
Dan ketahuilah sesungguhnya termasuk
suatu keburukan apabila orang menginginkan Akhirat akan tetapi
meninggalkan shalat malam. Maka bagaimana ? bahwa seorang murid-orang yang
menginginkan sampai kepada Allah- bahwa ia senantiasa mengharapkan tambahan
rahmat pada setiap waktunya, telah bersabda RasuluLlah SAW, “Sesungguhnya
pada setiap malam ada suatu saat yang apabila seorang hamba menjumpai saat itu
kemudian ia meminta suatu kebaikan kepada Allah tentang urusan dunia maupun
akhirat melainkan Allah akan memberikannya, dan yang demikian itu terjadi
setiap malam HR Muslim. Dan pada sebagian kitan Allah yang diturunkan, Allah
Ta’ala berfirman, “sungguh telah bohong orang yang mengaku mencintaiKu,
apabila malam telah larut lantas ia tertidur dariKu. Bukankah setiap orang yang
mencintai akan selalu ingin bersendirian dengan yang dicintainya”.
Syaikh Ismail bin Ibrahim AL-Jibraani rahimahuLloohu berkata, “semua kebaikan
akan terkumpul semuanya pada waktu malam”-tentu saja apabila digunakan untuk
mendekatkan diri kepada Allah SWT-. RasuluLlah SAW bersabda yang artinya, “sesungguhnya
Allah Ta’ala turun paad tiap-tiap malam ke langit dunia ketika malam tinggal
sepertiganya yang akhir. Maka Allah Ta’ala berifrman, ‘Adakah yang berdo’a akan
sesuatu niscaya akan ijabahi, dan adakah yang meminta ampunan kepadaKu maka
akan Aku ampuni, dan adakah yang meminta sesuatu niscaya akan Aku beri, dan
adakah orang yang bertaubat maka akan Aku beri taubat kepadanya yang demikian
itu hingga terbit fajar”. Dan bagi orang yang ‘Aarif biLlah pada
mendirikan shalat malam terdapat / merupakan tempat turunnya rahmat Allah /
manziilaat yang sangat mulia, yang banyak sekali dan beberapa kehebatan
rasa (Dzauq) yang sangat lembut yang dapat mereka rasakan di dalam hati
mereka akan ni’matnya berdekatan dengan Allah dan lezatnya bersama-sama
Allah dan manisnya bermunajah dan indahnya bercakap-cakap kepada
Allah / Muhadastah. Sebagian dari mereka / Aarifuun berkata, “seandainya
ahli surga merasakan apa yang kami rasakan niscaya mereka merasakan hidup yang
sangat menyenangkan”. Dan sebagian dari mereka Arifuun berkata,
“sesungguhnya Ahlullail-orang yang ahli menghidupkan malamnya untuk
beribadah kepada Allah-dalam menikmati malamnya seperti Ahlullahwi-orang
yang senang bersendau gurau- dalam menikmati sendau guraunya”. Dan berkata
sebagian dari mereka para Arifuun, “semenjak empat puluh tahun
tidak ada sesuatu yang mengecutkan hatiku kecuali munculnya fajar”. Tentu
saja nikmat yang demikian ini tidak akan terjadi kecuali setelah melalui usaha
yang terus menerus dan menanggung penderitaan yang berat dalam menghidupkan
ibadah di waktu malam, sebagaimana yang dikatakan oleh Utbatul Ghulam “telah
datang malam selama dua puluh tahun dan selama itu pula aku merasakan
kenikmatan”
(Dan jika apa yang harus di
laksanakan untuk mendirikan shalat malam/ibadah malam hari dan berapa reka’at
sebaiknya shalat malam dilakukan ?). maka ketahuilah sesungguhnya RasuluLlah
SAW tidak mengajarkan dalam shalat tahajud akan bacaan surah-surah tertentu,
akan tetapi baik juga dilakukan dengan membacanya sedikit demi sedikit ketika
berdiri melakukan shalat sehingga dapat khatam dalam satu bulan, atau
kurang atau lebih tergantung dari kemampuan. Adapun bikangan reka’at maka
banyaknya adalah sebagaimana RasuluLlah SAW mendirikan shalat malam yaiut 13
reka’at, dan yang sedang bisa 9 atau 7 reka’at. Akan tetapi kebanyakan yang
diajarkan adalah 11 reka’at . dan disunahkan ketika bangun dari tidur hendaklah
engkau mengusap wajah dengan tangan seraya mengucapkan kalimat, “AlhamduliLlaahilladzii
ahyanaa ba’da maa amaatanaa wa ilaiHinnusyuur”. Yang artinya, “Segala puji
bagi Allah yang telah manghidupkan aku setelah kematianku dan kepadaNyalah
tempat kembali”. Dan kemudian membaca Inna fii kholqissamaawaati wal ardhi
wakhtilaafillaili wannahaari la aayaatill li ulul albaab……dan seterusnya sampai
akhir surah.
Kemudian setelah itu bangun dari
tepat tidur lalu ber wudhu dengan wudhu yang sempurna, kemudian shalat
dua rekaat secara ringkas (tidak terlalu panjang) syukril wudhu, kemudian
shalatlah setelah itu delapan reka’at dengan memanjangkannya, dengan salam pada
setiap dua reka’at atau setiap empat reka’at, atau sekaligus delapan reka’at
dengan satu salam. Dan apabila masih dirasa mampu, maka berdirilah
mengerjakan shalat sunah menurut kemampuanmu, kemudian shalatlah tiga reka’at
dengan niat mengerjakan shalat witir dengan sekali salam atau dua kali salam.
Dan bacalah pada rekaat awal surah Sabbihisma Robbikal A’la, dan
reka’t kedua surah Qulyaa ayyuhal kaafiruun, dan rekaat yang ketiga
surah Ikhlash dan Muawwidzatain
PASAL
5
Dan sebaiknya ada bagi kamu suatu
wirid yaitu dengan membaca Kitab allah Yang Maha Mulia, dan engkau
mengekalkan dalam membacanya setiap siang dan malam hari. Dan yang paling
sedikit adalah jika engkau meringkasnya dengan membaca satu Juz setiap
hari, maka dengan begitu setiap bulan bisa khatam satu kali. Dan di atas
yang demikian adalah jika engkau mengkhatamkannya setiap tiga hari
sekali. Dan ketahuilah bahwa pada pembacaan Al-Qur’an terdapat faidah yang
sangat besar dan bekas yang jelas dalam menjernihkan hati.
RasuluLlah SAW telah bersabda, “Ibadah
paling utama umatKu dadalah membaca Al-Qur’an”.
Dan telah berkata Sayyidina ‘Aly
KarromaLlahu Wajhah, yang artinya “Barang siapa membaca Al-Qur’an
sedang ia dalam keadaan mendirikan shalat, maka pada setiap hurufnya dihitung
sebagai 100 kebajikan. Dan baranga siapa membacanya dengan duduk dalam shalat,
maka pada tiap huruf baginya 50 kebajikan. Dan barang siapa membacanya di luar
shalat sedang ia dalam keadaan suci dari dari hadast dan najis maka pada tiap
huruf baginya mendapat 25 kebajikan. Dan barang siapa yang membacanya dalam
keadaan tidak bersuci, maka baginya akan mendapatkan 10kebajikan”.
Dan takutlah bahwa keinginanmu dalam
membaca hanya sebatas memperbanyak bacaan saja, tanpa memperhatikan tadbiir dan
tartiilnya.
Dan keharusan bagi kamu ketika
membacanya, haruslah dengan tadbiir, dan engkau juga faham akan isinya
dan yang demikian itu menolong untuk dapat memahami maknanya dan dapat
menghadirkan hatimu akan keagungan Mutakallim / Dzat yang
berfirman yaitu Allah Ta’ala, dan sungguh engkau telah berada di hadapanNya dan
sedang membaca kitabNya yang memerintahkan sesuatu kepadamu, dan Yang
melarangmu akan sesuatu serta memberi nasihat kepadamu melalui firmanNya.
Dan hendaknya ketika membaca ayat tentang tauhid dan tamjiid maka
penuhilah hatimu dengan pengagungan kepada Allah dan Ta’dhiim kepadaNya.
Dan ketika membaca ayat yang berisi janji dan ancaman maka
penuhilah hati dengan perasaan takut dan harap kepadaNya. Dan ketika membaca
ayat tentang perintah Nya dan besarnya kekuasaanNya, maka penuhilah hati
dengan perasaan banyaknya kekurangan yang telah diperbuat dan perlu meminta
ampun kepadaNya. Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Al-Qur’an adalah
laksana lautan yang sangat luas, dimana dari dalamnya akan keluar mutiara ilmu
yang sangat berharga dan jalan kepada kefahaman. Maka barang siapa yang
telah dibukakan jalan kefahaman maka akan abadilah keterbukaan
hatinya dan akan sempurnalah nuurnya dan akan menjadi luas ilmunya,
maka baginya tidak akan berpaling darinya / Al-Qur’an baik siang maupun
malam karena sungguh ia telah sampailah ia akan tujuannya dan sungguh telah
mendapatkan apa yang dicarinya. Dan yang demikian inilah sifat dari murid yang
benar / shidiq
Telah berkata Syaikh Abu Madyan RA.
“Belumlah sempurna seorang murid dalam ke-muridannya sehingga ia
mendapati ada dalam Al-Qur’an apa-apa yang ia inginkan.
Dan wajib bagi kamu untuk menghafal
beberapa surah dan ayat memang telah diterangkan di dalam sunnah akan
keutamaannya, diantaranya engkau membacanya pada tiap malam Alif Laam Miim –Sajjdah-
dan tabaarokal mulku, dan surah waqiah dan AmanaRrosuulu
hingga akhir surah, dan surrah Ad-Dukhoon pada malam senin dan Jum’at,
dan surah Kahfi pada hari Jum’at beserta malamnya, dan jika memungkinkan
maka bacalah beberapa surah munjiyat yang tujuh pada tiap-tiap malam,
maka yang demikian ini adalah keutamaan yang sangat besar. Dan juga diantaranya
hendaklah engkau baca pada waktu pagi dan sore hari yaitu awwalnya surah
Hadiid dan akhir surat Chasyr, dan surah Al-Ikhlash, dan Muawwidzatain
masing-masing tiga kali, dan demikian pula engkau baca surah Al-Ikhlash dan
Muawwidzatain ketiak hendak tidur beserta ayat kursy dan Qul Yaa
ayyuhal kaafiruun, dan jadikan ia kalimat yang terakhir yang engkau
ucapkan. –Dan Allahlah yang berfirman dengan kebenaran, dan Ia lah yang
menunjukkan kepada jalan kebenaran.. Amin
FASAL
6
Dan seharusnyalah bagi kamu memiliki
wirid / amalan yaitu mempelajari atau membaca Ilmu yang
bermanfaat yaitu ilmu yang akan menambah pengetahuanmu (ma’rifatmu) akan
Dzat Allah dan sifatNya dan Af’al / perbuatanNya, dan
dengan ilmu tersebut engkau akan mengetahui perintah –perintahNya yang
mendorongmu untuk ta’at kepadaNya, serta larangan-laranganNya yang mencegahmu
untuk bermaksiat kepadaNya, sehingga yang demikian itu akan menyebabkan kamu zuhud
terhadap dunia dan mencintai akhirat. Dan dengan Ilmu yang
bermanfaat tersebut akan memperlihatkanmu akan Aib atau cacat dirimu dan
akan dapat diketahui bahaya hasil perbuatanmu, serta tipudaya musuh-musuhmu.
Maka yang demikian inilah Ilmu yang bermanfaat yang tertera di dalam Kitab Allah
dan Sunnah Rasul SAW, dan kitab para Aimmah atai para imam
pemimpin umat. Dan Imam Al-Ghazali telah mengumpulkannya dalam kitabnya
yang sangat mulia (Ihya’ Ulumuddin), yang sangat besar faidahnya bagi
orang yang memiliki Bashiirah / mata hati dan gemar akan Ilmu agama dan
keyakinan yang sempurna, maka bersungguh-sungguh mereka dalam mempelajari kitab
tersebut, demikian juga bagi kamu jika kamu benar bersungguh-sungguh ingin
menempuh jalan akhirat, dan berkeinginan untuk sampai / wushul kepada
martabat hakikat. Dan sungguh kitab tersebut dijadikan rujukan para ahli
pencari hakikat yaitu para sufi dan mereka memperoleh faidah yang sangat
besar dalam waktu yang relatif singkat, semua karena berkah Al-Imaam
Al-ghazaali ra.
Dan seharusnyalah bagi kamu
memperbanyak membaca kitab hadits dan tafsir dan mempelajari kitab yang
umum/kebanyakan dipelajari oleh para alim ulama, karena yang demikian itu akan
dapat membukakan hati dan jalan yang sempurna menuju kedekatan dengan
Allah seperti yang dikatakan sebagian Arifiin. Akan tetapi hendaklah
berhati-hati apabila menelaah beberapa risalah yang membahas masalah-masalah
yang sangat halus/lembut dan masalah hakikat dengan belajar sendiri tanpa
didampingi seorang guru / Syaikh pemimbing, dan masalah yang demikian ini
banyak dijumpai dari risalah-risalah yang di karang oleh beberapa pengarang
seperti Syaikh Muhammad ‘Arabi dan beberapa risalah dari Al-Imam Al-Gazali RA
seperti kitab Al-Ma’aarij. Apabila ada orang yang berkata, “sesungguhnya
tidak mengapa bagi kami mempelajari kitab-kitab tersebut karena sesungguhnya
kami hanya mengambil apa-apa yang kafi faham atasnya dan beriman terhadap apa
yang tidak kami fahami dari kitab tersebut”, maka jawabannya adalah
“sesungguhnya dihawatirkan bagimu bahwa apa yang engkau fahamkan dari kitab
tersebut tidak sama denagn apa yang dikehendaki oleh pengarangnya maka akan
menjadi tersesat dari jalan yang benar, seperti yang terjadi pada beberapa kaum
yang muthala’ah kitib-kitab tersebut tanpa pembimbing seorang Syaikh
maka menjadi Zindiq dengan pernyataan mereka mengenai hulul dan ittihaad
(manunggaling kawulo gusti) – penyatuan antara hamba dengan
TuhanNya…….Na’udzubiLlahi min dzalik.
FASAL
7
Dan seharusnya bagi kamu memiliki
amalan dzikir kepada Allah Ta’ala dengan ditentukan waktunya maupun bilangan
jumlahnya (tentu saja dengan meminta amalan dari para Masayikh / para
Ulama’) karena yang demikian ini untuk mendidik kedisiplinan. Dan
ketahuilah bahwa sesungguhnya dzikir adalah termasuk rukun thariqah atau
sesuatu yang harus dijalankan bagi orang yang hendak mendekatkan diri kepada Allah,
dan dzikir adalah kunci pembuka hakikat dan merupakan pedang bagi murid.
Sebagaimana yang dikatakan oleh ba’dhul ‘Aarifiin bahwa sesungguhnya
telah berfirman Allah, “Fadzkuruunii Adzkurkum” yang artinya, “maka
ingatlah/berdzikirlah kamu semua kepada Ku niscaya Aku akan mengingatmu”. Dan
allah telah berfirman, “FasdzkuruuLlaaha qiyaaman wa qu’uudan wa ‘alaa
junuubikum” yang artinya, “maka ingat/berdzikirlah kamu sekalian kepada
Allah ketika berdiri, dan duduk, dan ketika berbaring diatas punggungmu”.
Dan Allah Ta’ala juga berfirman, “Yaa
ayyuhalladziina aamanuudzdzkuruLlaaha dzikran katsiira” yang artinya,
“Wahai orang-orang yang beriman, dziirlah kamu sekalian kepada Allah denagn
dzikir yang banyak”.
Dan telah bersabda RasuluLlah SAW,
yang artinya, “Sesungguhnya Aku tergantung persangkaan hamba-ku kepada-Ku,
dan Aku akan selalu bersamanya selama mereka mengingat-Ku. Apabila ia
mengingat-Ku di dalam dirinya, maka Aku akan mengingatnya di dalam Diri-Ku.
Jika ia menyebut-Ku di tempatnya, maka Aku akan menyebut-Nya di tempat-Ku lebih
baik dari pada penyebutannya di tempatnya”.
Dan Nabi SAW telah bersabda, “Telah
berfirman Allah Ta’ala, ‘Aku adalah teman duduk orang yang berdzikir
kepada-Ku.”
Dan Nabi SAW juga telah bersabda, “Maukah
kamu sekalian aku tunjukkan sebaik-baik amal kamu semua untuk Tuhanmu, dan
lebih dapat mengangkat derajat kamu sekalian, dan yang lebih baik bagi kamu
dari paad menginfaqkan emas dan perak dan lebih baik dari keadaan seandainya
engkau berjumpa dengan musuh maka engkau memukul pundak mereka demikian juga
mereka memukul pundakmu (perang fi sabiliLlah), ?” Maka mereka (para
sahabat) menjawab, “Baik Yaa RasuluLlah”. Maka Nabi bersabda, ‘DzikruLlah
yaitu dzikir kepada Allah”.
Dan dengan dzikir banyak sekali buah
dan manfaatnya bagi orang yang bersungguh-sungguh mengamalkannya dengan adab
dan hadirnya hati di hadapan Allah Ta’ala. Dan minimal buah hasil dari
dzikir adalah rasa manis lezat yang dirasakan di dalam hati yang dapat
mengalahkan segala sesuatu disekelilingnya misalnya kelezatan dunyawiyah.
Sedang paling tinggi buah dari dzikir adalah apabila ia fana (hilanglah
segala sesuatu) karena mengerasnya Yang di ingat yaitu Allah bahkan ia sendiri
tidak fana / ingat akan dirinya sendiri -karena terkalahkan oleh Yang
diingat/disebutnya. Dan juga fana/lenyap dari segala sesuatu selain Dia.
Dan barang siapa yang duduk dalam
keadaan suci baik dari hadats maupun najis di tempat yang sunyi (khalwat)
dengan menghadap kiblat menenangkan pandangan matanya, menundukkan kepalanya
kemudian berdzikir kepada Allah dengan hati yang hadir ke hadapan Allah
maka hatinya akan melihat dan merasakan bekasnya dzikir secara nyata.
Dan apabila ia terus dalam keadan yang demikian maka nuurul qurbi / cahaya
kedekatan akan menyiinarinya dan akan terbuka baginya asraarul ghaibi yaitu
rahasia sesuatu yang ghaib. Dan seutama-utamanya dzikir dalah apabila
terwujud bersama-sama antara dzikir hati dan lisan. Dan yang dimaksud dzikrul
qalbi /dzikir hati adalah apabila bisa hadir ke dalah hati akan makna apa
yang diucapkan oleh lisan. Seperti Taqdis dan tahmiid (Pemahasucian dan
pemujian) kepada Allah ketika tasbih dan tahlil. Dan dzikir adalah wirid
yang abadi / da’im maka berusahalah agar lisan senantiasa basah dengan
sebab dzikir dalam keadaan apapun kecuali pada waktu yang tidak memungkinkannya
untuk melaksanakan dzikir tersebut seperti ketika membaca Al-Qur’an dan
tafakur. Dan jadikan ibadah yang demikian ini sebagai media untuk mendekatkan
diri kepada Allah, dan janganlah terpancang dengan hanya satu macam dzikir saja
akan tetapi sebaiknya memiliki amalan dzikir yang berfariasi.
FASAL
8
Dan bagi kamu wajib menjaga beberapa
amalan dzikir dan do’a serta wirid-wirid pada saat selesai melaksanakan shalat
dan ketika subuh dan sore hari dan ketika hendak tidur, dan ketika bangun
dan lain sebagainya dari setiap waktu dan keadaan. Maka apa saja yang diajarkan
RasuluLlah SAW bagi umatnya tentu akan menjadi sebab kebahagiaan dan kebaikan
serta keselamatannya dari keburukan waktu tersebut. Dan siapa yang
menyia-nyiakan akan hal tadi, kemudian menjumpai beberapa hal yang tidak
menyenangkan hati, atau terhalang antara dia dengan apa yang ia cintai, maka
janganlah menyalahkan kepada siapapun kecuali kepada diri sendiri. Dan barang
siapa yang ingin mnegamalkan apa yang telah disebutkan tadi, maka hendaklah mempelajari
kitab Al-Adzkaar karya Imam Nawawi RA. Dan yang utama diamalkan ketika
selesai melaksanakan shalat maka hendaklah dibaca setelah shalat maktubah
“Allahumma a’innyy ‘alaa dzikriKa wa syukriKa wa husni ‘ibaadatiKa” dan
“dan tasbih 33 X, demikian pula takbir dan tahmid 33 X, dan terakhir ditutup
dengan Laa Ilaaha IllaLlah wahdaHu Laa SyariikaLah laHul mulku walaHul Hamdu
wahua ‘ala kulli Syai’in Qadiir” dan kalimat yang di atas dapat juga
ditambah dengan kata “Yuhyi wa yumiit” dibaca10 kali sebelum
mengucapkan kata-kata apapun setelah shalat subuh dan ashar dan maghrib, dan
diantaranya juga dibaca kalimat pada waktu pagi dan sore “SubhanaLlah
wabihamdiHi 100X” dan “SubhanaLlah wal hamdu luLlah wa Laa Ilaaha IllaLlah
HuweaLlaahu Akbar” 100 X, dan “Laa Ilaaha illaLlaah wahdaHu laa syariikalaH
laHul mulku walaHul hamdu waHuwa ‘ala kulli syai’in qadiir setiap hari 100 X”
Dan jadikan bagimu wirid berupa
bacaan shalawat kepada Nabi SAW karena yang demikian ini merupakan washilah
/ media / perantara yang akan menghubungkan kamu dengan kekasih Allah dan
merupakan pintu yang banyak faidahnya bagi kamu dengan perantaraan shalawat ke
hadirat RasuluLlah SAW. Sungguh telah bersabda RasuluLlah SAW, yang artinya, “Barang
siapa yang bershalawat kepadaku satu kali maka Allah akan berselawat-memberi
rahmat- kepadanya 10 kali. Dan juga bersabda RasuluLlah SAW, “Yang
paling cinta diantara kamu sekalian kepadaku, dan paling dekat tempat duduk
dari kamu sekalian kepadaku adalah yang paling banyak dari kamu yang membaca
salawat kepadaku”. Dan sungguh Allah Ta’ala telah memerintahkan kepada kita
semua dalam kitabNya yang mulia dengan firmanNya, “Yaa ayyuhalladziina aamanuu
shalluu alaiHi wasallimuu tasliimaa” yang artinya, “Wahai orang-orang yang
beriman, berselawatlah kamu semua kepadaNya (kepada RasuluLlah SAW) dan
ucapkan salam kepadanya dengan sesungguh-sungguh salam”. Maka lakukanlah
perintah tersebut dan perbanyaklah dan jangan engkau sedikitkan, dan
gabungkanlah antara selawat dan salam serta selawat kepada keluarga Nabi SAW.
Dan perbanyaklah dari shalawat pada malam jum’at dan siang harinya.
Dan seharusnya bagi kamu untuk
memiliki wirid berupa tafakur baik pada malam hari maupun siang
hari yang engkau tetapkan waktunya untuk sesaat atau beberapa saat. Dan saat
yang tepat untuk bertafakur adalah saat yang paling luang dan saat yang paling
jernih dalam pikiran seperti pada waktu tengah malam. Dan ketahuilah
bahwa kebaikan dunia dan agama adalah terletak pada bagusnya tafakur .
dan barang siapa yang dianugerahi tafakur, niscaya ia telah diberikan
semua kebaikan. dan sungguh telah terdapat pernyataan yang menyebutkan bahwa tafakur
sesaat itu lebih baik daripada ibadah satu tahun. Dan telah berkata
Sayyidina Ali KarramaLlaahu WajHah, “tidak ada ‘ibadah seperti tafakur / yang
melebihi tafakur dalam hal kebaikannya. Dan ba’dhul ‘aarifiin berkata, “sesungguhnya
tafakur adalah pelita hati orang mukmin. Maka apabila hilang pelita itu niscaya
tidak akan terang hati itu “. Dan tempat berlalunya tafakur itu banyak sekali,
diantaranya (dan yang paling utama) adalah tafakur tentang keajaiban-keajaiban
ciptaan Allah pada alam semesta, dan jejak atau bekas dari taqdir Allah
baik yanh dhahir maupun bathin, dan apa yang terjadi pada langit dan bumi, dan
yang demikian ini akn menambah ma’rifat akan dzat Allah dan sifatNya
dan AsmaNya. Dan Allah telah berfirman yang artinya, Dan lihatlah
apa saja yang ada di langit dan di bumi. Dan dirimu adalah termasuk
pada ciptaanNya yang ‘ajaib maka bertafakurlah tentang dirimu. Dan Allah
Ta’ala telah berfirman, Dan di bumi terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah
bagi orang-orang yang yakin demikian juga pada dirimu, maka apakah kamu tidak
melihatnya ?.
Dan hendaknya engkau bertafakur akan
ni’matNya dan pertolonganNya yang sampai kepadamu dan juga akan ni’matNya yang
sempurna atasmu. Allah Ta’ala berfirman, “Dan ingatlah kamu semua akan
ni’mat-ni’mat Allah kepadamu agar kamu menjadi orang yang beruntung“.
Dan Allah juga berfirman, Jika engkau menghitung ni’mat Allah niscaya
kamu tidak akan dapat menghitungnya. Dan Allah telah berfirman, Dan
ni’mat apa saja yang datang kepadamu, maka sesungguhnya itu dari Allah.
Dan hasil dari tafakur yang demikian adalah penuhnya hati dengan mahabbah / cinta
dan sibuknya hati dengan bersyukur lahir maupun bathin sebagaimana Allah telah
mencintainya dan ridha kepadanya.
Dan seyogyanya engkau bertafakur
akan Ilmu Allah yang seluruh meliputi dirimu dan akan penglihatanNya kepadamu.
Dan sungguh telah berfirman Allah Ta’ala, Dan sesungguhnya telah kami
ciptakan manusia dan Kami mengetahui apa yang terlintas dalam hatinya dan Kami
lebih dekat padanya daripada urat lehernya. Dan Allah Ta’ala berfirman,
Dan Dia selalu bersama kamu di mana saja kamu berada dan sesungguhnya
Allah melihat apa saja yang kamu perbuat. Dan Allah Ta’ala berfirman, Apakah
kamu tiada mengetahui bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada di alangit dan
di bumi. Dan apa yang ada diantara tiga orang maka Dialah yang ke empatnya. Dan
yang diantara lima orang maka Dialah yang ke enamnya. Dan tafakur yang
demikian ni akan membuahkan rasa malu pada dirimu jika Allah melihatmu pada apa
yang dilarangNya, dan kehilangan kamu pada apa yang diperintahkanNya.
Dan seharusnya engkau bertafakur
tentang kekuranganmu dalam beribadah kepada tuhanmu dan berpalingnya kamu pada
apa yang dibencinya dengan mendatangi apa yang dilarangnya. Dan Allah Ta’ala
berfirman, Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah
kepadaKu. Dan Allah Ta’ala berfirman, Apakah kamu mengira bahwa
Aku ciptakan kamu dengan sia-sia, dan kepada Kami kamu semua tidak akan kembali
?. dan Allah Ta’ala berfirman, Wahai manusia, apa yang telah
memalingkan kamu dari Tuhanmu Yang Maha Mulia ?. Dan tafakur yang
demikian ini akan menambah ketakutanmu kepada Allah dan akan membawamu kepada
menghinakan hawa nafsumu dan memandang buruk kepadanya (nafsu), dan menjauhi
keteledoran, serta melanggengkan keta’atan kepadaNya.
Dan seharusnya engkau
bertafakur akan kehidupan dunia ini dengan segala kerepotannya dan tafakur akan
cepat hilangnya dunia, dan bertafakur akan akhirat dan ni’matnya dan
keabadiannya. Allah Ta’ala berfirman, Demikianlah Allah menerangkan
kepadamu ayat-ayat agar kamu berfikir tentang dunia dan akhirat. Dan
Allah Ta’ala berfirman, bahkan mereka memilih kehidupan dunia, sedangkan
akhirat lebih baik dan lebih kekal. Dan Allah Ta’ala berfirman, dan
tidaklah kehidupan dunia ini tiada lain seperti sendau gurau belaka, dan
sesungguhnya kampung akhirat adalah kehidupan yang sesungguhnya jika mereka
mengetahui. Dan tafakur yang demikian akan membuahkan untukmu sifat zuhud
kepada dunia dan cinta akan akhirat.
Dan sebaiknya engkau berfikir
tentang datangnya maut dan memperoleh kesesahan dan penyesalan
sesudahnya. Allah Ta’ala berfirman, Katakanlah (Muhammad) bahwa
sesungguhnya kematian yang kamu sekalian lari daripadanya, maka sesungguhnya ia
tetap akan menjumpaimu. Kemudian kemu semua akan dikembalikan kepada Allah dzat
Yang Maha mengetahui yang ghaib dan yang nyata maka akan diberitakan kepadamu
tentang apa-apa yang telah kamu perbuat. Dan Allah Ta’ala berfirman, sehingga
apabila telah datang kematian kepada salah satu dari kamu semua maka dia akan
mengatakan, Tuhan kembalikanlah aku-ke dunia- agar aku dapat berbuat kebaikan
setelah apa yang telah aku tinggalkan –dari melakukannya-. Demikianlah perkataan
yang mereka katakan.
Dan Allah Ta’ala juga telah
berfirman, Wahai orang-orang yang beriman, jangan sampai hartamu dan
anak-anakmu melalaikan kamu dari dzikir kepada Allah. Sampai firman
Nya, Dan Allah tidak akan menunda ajal seseorang apabila telah datang.
Manfaat yang dapat diamnbil dari tafakur yang demikian ini adalah memendekkan
angan-angan dan membeguskan amal dan memperbanyak bekal untuk kelak di hari
akhir (hari kembali kepada Allah.
Dan wajib bagi kamu untuk bertafakur
tentang akhlak-akhlak dan amal yang baik yang disifatkan Allah kepada para
kekasihNya dan para musuhNya dan bertafakur tentang apa yang disediakan Allah
untuk keduanya dari kebaikan yang baik yang segera (di dunia) maupun yang
ditangguhkan (di akhirat). Allah Ta’ala berfirman, sesungguhnya orang
yang baik akan hidup dalam keni’matan, dan orang-orang yang jahat maka akan
mendapatkan siksaan (jahim). Dan Allah Ta’ala berfirman, Maka
apakah orang yang beriman itu seperti orang yang fasiq ? Tidaklah sama mereka
itu./dan Allah Ta’ala berfirman, Adaun orang-orang yang bertaqwa,
niscaya mereka akan kami mudahkan kehidupan mereka. Dan Allah
berfirman, Sesungguhnya orang-orang yang beriman apabila disebut asma
Allah maka bergetarlah hati mereka dan apabila dibacakan ayat-ayatNya maka akan
semakin tambahlah imannya. ….bagi mereka akan mendapat ampunan dari Tuhannya
dan rizki yang baik. Dan Allah Ta’ala berfirman, Allah telah
menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bahwa mereka
akan kami jadikan penguasa di bumi sebagai mana orang-orang yang telah
terdahulu.
Dan Allah Ta’ala telah berfirman, Maka
apabila telah Kami tetapkan keputusan Kami maka diantara mereka ada yang kami
kirimkan angin yang membinasakan, dan diantara mereka ada yang kami siksa
dengan seruan yang sangat keras (Shaihah), dan diantra mereka ada yang Kami
benamkan ke dalam bumi, dan ada pula diantara mereka yang Kami tenggelamkan ke
dalam laut. Dan tidaklah Allah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi
merekalah yang menganiaya diri sendiri. Dan Allah berfirman, dan
orang-orang munafik baik laki maupun perempuan, diantara diri mereka saling
mengajak kepada perbuatan yang buruk dan meghalangi perbuatan baik. …….dan
Allah mela’nat mereka dan bagi mereka adzab yang menghinakan. dan Allah
Ta’ala berfirman, dan orang yang beriman baik yang laki maupun yang
perempuan saling tolong menolong diantara mereka, saling tolong-menolong dalam
kebaikan,……..dan Ridho Allah lebih besar yang demikian itu adalah keberuntungan
yang sangat besar. Allah Ta’ala berfirman, Sesungguhnya
orang-orang yang tidak mengharapkan perjumpaan dengan Ku adn mereka hanya rela
dengan kehidupan di dunia dan mereka tenang dengannya……. dan hasil dari
tafakur yang demikian ini adalah menimbulkan cinta kepada orang-orang yang baik
/ shaleh / su’adaa’ dan menggerakkan dirinya untuk beramal sebagai mana
amal mereka, dan berakhlak dengan akhlak mereka.
Dan sebaiknya engkau dapat
menghadirkan pada setiap tafakur akan pemahamannya dengan ayat-ayat Al-Qur’an
dan hadits, dan atsar dan janganlah engkau bertafakur akan dzat
Allah dan sifatnya dengan tujuan menganalisa keadaanNya (kaifiyahnya)
, dan sungguhntelah diriwayatkan dari RasuluLlah SAW bahwa Beliau bersabda, bertafakurlah
kamu sekalian tentang ayat-ayat/tanda-tanda Allah dan janganlah kamu semua bertafakur
tentang dzat Allah. Maka sengkau sesungguhnya tidak akan mampu
dari yang demikian ini. Maka yang demikianlah apa yang kami sampaikan
dari beberapa adab, dan beberapa tujuan aurad / wirid yang pada intinya
adalah Hadirnya hati kepada Tuhan . dan engkau tidak akan dapat sampai
kepada yang demikian jika tidak melali jalan ini yaitu melaksanakan amal yang
lahiriah yang disertai hadirnya hati kehadirat Allah. Maka apabila engkau telah
dapat membiasakan hal ini, maka akan teranglah nuur/cahaya kedekatan kepada
Tuhan dan akan mengalirlah ilmu – ilmu ma’rifat. Dan apabila telah sampai yang
demikian, maka hatimu akan selalu menghadap kepada Allah secara keseluruhan.
Dan jadila Ia / hati selalu hadir kehadirat Allah SubhanaHu Wata’ala. Dan
terkadang, keadaan yang demikian ini akan berkembang terus sehingga hati
mengalami ghaibah dan istighraq (tenggelam) kehadirat Allah dan fana
(lenyapnya hati karena yang dilihat hanyalah kebesaran Allah, sehingga yang
lainnya lenyap/hilang termasuk dirinya, dan yang ada hanyalah allah) dan
lain-lain perolehan yang ditemui oleh para AhliLlah. Dan dasar dari
pencapaian tersebut adalah tekun dan bersungguh-sungguh melaksanakan amal dzahir
dan menjaganya disamping hatinya selalu merasa hadir bersama Allah. Dan
takutlah kamu akan meninggalkan amal meskipun amalan yang ringan dan takutlah
tidak melanggengkan amal tersebut karena yang demikian termasuk dalam
kebodohan. Dan janganlah melakukan amal karena merasa longgar waktunya dan
karena badan sedang merasa enak dalam melakukannya akan tetapi sebaiknya
disamakan baik dalam keadaan sibuk maupun longgar, yaitu tetap melaksanakan
ketika hati merasa malas, dan menambahnya apabila mendapati waktu longgar.
FASAL
9
dan ketahuilah bahwasanya bersegera
melakukan kebaikan dan menjaga ibadah, dan selalu melakukan ta’at adalah
kebiasaan para Nabi SAW dan para aulia baik dalam awwal maupun akhir
perjalanannya.karena sesungguhnya Mereka adalah yang paling ma’rifat / mengenal
Allah. Maka tidak mengherankan jika Mereka yang paling bnayak ibadahnya dan
paling ta’at dan paling takut kepada Allah Azza wa Jalla. Karena sesungguhnya
menghadapnya hamba kepada Tuhannya dan ibadah hamba kepada Tuhannya menurut kadar
kecintaannya kepadaNya. Dan sesungguhnya kecintaan itu tergantung dari besarnya
ma’rifat´. Maka manakala seorang hamba lebih berma’rifat kepada
Allah maka sudah pasti ia lebih bersangatan cintanya kepadaNya dan lebih banyak
ibadah kepadaNya.
Apabila engkau disibukkan dengan
mengumpulkan harta dunia dan disibukkan pula dengan menuruti hawa sehingga
mengesampingkan aurad / dzikir maka berjuanglah agar engkau mempunyai
sesaat untuk Tuhanmu pada pagi hari dan satu saat paad sore hari, dimana pada
saat itu engkau gunakan untuk bertasbih dan istighfar dan lain-lain dari
bermacam-macam keta’atan.
Dan sungguh telah diriwayakan dari
Allah Ta’ala sesungguhnya Allah berfirman , “Wahai anak Adam, jadikanlah
untukKu satu saat di awwal harimu dan satu saat di akhir hari maka akan Aku
cukupi apa yang diantara keduanya.
Dan ada pula keterangan yang
menyatakan bahwa sesungguhnya catatan amal perbuatan seorang hamba dihadapkan
kepada Allah Azza wa Jalla pada akhir hari. Maka apabila di dapat kebaikan pada
awwal hari dan kebaikan pada akhir hari maka allah berfirman kepada malaikat,
“hapuslah apa yang diantara keduanya. Yang demikian ini adalah kemurahan Allah
kepada kita dan kepada semua manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahuinya.
FASAL
10
dan wajib bagi kamu untuk berpegang
teguh kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasul dan bergantung kepada
keduanya, karena keduanya adalah agama Allah yang kokoh dan jalanNya yang
lurus. Barang siapa yang mengambil keduanya, maka ia akan selamat, dan akan
mendapat petunjuk dan akan terjaga. Dan barang siapa yang mengabaikannya
keduanya, maka akan tersesat dan menyesal dan mengalami kerusakan. Maka
jadikanlah keduanya sebagai penunjuk jalan bagimu. Dan kembalilah kepada
keduanya dalam segala hal urusanmu dengan niatan melaksanakan wasiyat Allah dan
wasiat rasulNya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Wahai orang-orang yang beriman,
taatlah kepada Allah dan ta’atlah kepada Rasul dan pemerintah kamu sekalian.
Maka apabila diantara kamu berselisih tentang sesuatu hal maka kembalikanlah
urusannya kepada Allah dan kepada RasulNya- artinya kembalikan kepada Kitab dan
Sunah. RasuluLlah SAW bersabda, “Aku berwasiat kepadamu dengan sesuatu
yang apabila kamu semua berpegangan kepadanya niscaya tidak akan tersesat
selamanya – KitabuLlah dan sunnahku. Jika dirimu ingin mendapat
petujnuk kepada jalan yang lurus yang tidak ada keraguan di dalamnya, dan
engkau menginginkan dirimu dalam keamanan, maka konsentrrasikan segala niatmu
dan akhlakmu dan amalmu dan ucapanmu kepada Kitab Allah dan Sunah
Nabi SAW. Maka ambilah apa yang sesuai dengan keduanya, dan tinggalkanlah
apa yang bertentangan dari keduanya. Dan jalankanlah apa – apa yang ada di
dalamnya dan ikutilah kebaikan untuk selamanya dan janganlah engkau
mengada-adakan sesuatu di dalam hal agama (bid’ah) dan janganlah engkau
mengikuti selain jalan orang mukmin maka engkau akan mengalamii kerugian di
dunia maupun di akhirat. Dan yang demikian itu adalah kerugian yang sangat
nyata. dan takutlah kamu sekalian akan mengada-adakan perkara agama padahal
tidak disyariatkan oleh RasuluLlah SAW, maka sesungguhnya telah bersabda
RasuuLLah SAW, “sesungguhnya sesuatu yang diada-adakan adalah bid;ah, dan
setiap yang bid’ah adalah tersesat. Dan telah bersabda RasuuLLah SAW barang
siapa yang mengada-ada tentang perkara kami, maka sedang kami tiada
mengadakannya, maka di tolak . dan bid’ah itu ada tiga macam, bid’ah
hasanah, yaitu apa yang disampaikan oleh orang yang bijaksana dari
sesuatu yang bersesuaian dengan Kitab Allah dan sunah RasuuLLah SAW karena
menginginkan memilih sesuatu yang lebih baik dan lebih bermanfaat . maka yang
demikian ini contohnya seperti mengumpulkan Al-Qur’an ke dalam mushaf seperti
Abu Bakar, dan salat tarawih dari Umar, dan menertibkan/menyusun mushaf dan dua
adzan awwal yang dilakukan oleh sahabat Utsman RA. Yang ke dua adalah bid’ah
yang tercela/madzmumah bagi sebagian orang yang zuhud dan qana’ah
seperti seperti bermewah-mewahan dalam hal makan dan pakaian, dan rumah/tempat
tinggal. Dan yang ketiga adalah bid’ah yang tercela secara mutlak, yaitu
apa – apa yang berselisih dengan nash kitab Allah dan sunah RasuuLLah SAW atau
berseberangan dengan ijma’ /kesepakatan para alim ulama. Oleh karena itu
barang siapa yang belum bisa berpegangan dengan kitab Allah dan mengikuti sunnah
RasuuLLah SAW kemudian ia mendakwakan dirinya bahwa ia telah memperoleh
suatu kedudukan disisi Allah, maka janganlah mengikutinya meskipun ia memiliki
kemampuan terbang di atas udara atau berjalan di atas air, dan dapat menembus
batas tempat, dan dapat melakukan hal – hal yang istimewa (khariqul ‘adah),
karena yang demikian itu kebanyakan terjadi sebagaimana yang dilakukan oleh
syaitan, dan tukang sihir, dan tukang tenung dan ahli nujum dan lain sebagainya
dari perbuatan-perbuatan yang menyesatkan. Dan tidak lepas pula dari yang
demikian ini suatu istidraj (cobaan) dari Allah.
Adapun orang yang memiliki ilmu dan
akal kecerdasan dari orang-orang yang beriman, sungguh mereka mengetahui
bahwasanya perbedaan derajad kedekatan seorang hamba kepada Tuhannya itu
tergantung dari pada sejauh mana kesempurnaan dalam mengikuti sunah RasuuLLah
SAW. Dan sesungguhnya manakala sempurna dalam hal itba’ sunnah RasuuLLah
SAW, tentu semakin sempurnalah kedekatannya kepada Allah SWT.
Dan dalam sebuah riwayat diterangkan
bahwasanya Abu Yazid Al-Bustami RA telah berniat untuk menziarahi seorang yang
termasyhur pada saat itu dan mereka menganggap sebagai wali Allah. Dan beliau
Syaikh Abu Yazid RA. duduk menanti orang itu untuk mengikuti salat berjama’ah.
Maka ketika orang itu keluar dan dilihat oleh Syaikh Abu Yazib bahwa ia telah
meludah di sudut masjid, maka beralulah Abu Yazid dan meninggalkan orang itu
tidak jadi menemui orang tersebut. Kemudian ditanyakan kepada Syaikh Abu Yazid
mengapa berbuat demikian, maka beliau menjawab, “Bagaimana seseorang yang
percaya kepada Rahasia Allah padahal ia tidak menjaga adab yang baik dalam hal
syari’at”.
Sahal bin AbdulLah RA berkata,
“Tidak ada penolong kecuali Allah, tidak ada dalil/petunjuk kecuali RasuuLLah
SAW, tidak ada bekal kecuali taqwa, tidak ada amal kecuali bersabar kepadanya /
amal tersebut, dan ketahuilah bahwasanya tidak akan mampu bagi tiap-tiap orang
untuk melaksanakan kitab Allah dan sunah RasuuLLah SAW secara lahir dan bathin
dengan sempurna karena yang demikian ini hanya tertentu bagi para ulama yang
sangat mencintai Allah dan RasuluLlah SAW. Oleh karena itu jika engkau merasa
tidak mampu untuk memahami ataupun melaksanakan Kitab Allah dan sunah
RasuluLlah SAW maka wajib bagi kamu untuk kembali / ruju’ kepada orang
yang Allah memerintahkan kepadamu untuk kembali kepadanya, sebagaimana firman
Allah Ta’ala, “Fas’aluu ahlajdzdzikri inkuntum laa ta’lamuun” yang
artinya, ‘tanyakan kepada ahlinya jika kamu tidak mengetahui”. Dan yang
dimaksudkan ahludzdzikri adalah ulama Billah wabidiinihi yang
mengamalkan ilmunya karena mencari keridhaan Allah Ta’ala, yang zuhud terhadap
dunia, yaitu ulama yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dunia daripada
dzikirnya kepada Allah Ta’ala, mereka yang selalu mengajak manusia kepada Allah
dengan pandangan hatinya yang terbuka hijabnya akan rahasia-rahasia Allah. Dan
sungguh sulitlah didapati seseorang yang berperangai demikian di bumi yang luas
ini sehingga para kabaair ulama sepuh menganggap bahwa mereka kehilangan
darinya, padahal sesungguhnya yang benar adalah mereka tetap ada akan tetapi
Allah Ta’ala telah menutupinya dengan selendang keagunganNya sehingga tidak ada
orang yang mengetahuinya. Kebiasaan mereka menyembunyikan diri dari khalayak
ramai bahkan orang ramai sama berpaling dari mereka. Maka barang siapa yang
berkeras mencarinya (wali Allah tersebut) dengan niat yang benar dan
bersungguh-sungguh maka tidak akan kesulitan untuk bertemu dengan salah satu
dari mereka – Insya Allah-. Sesungguhnya kesungguhan dan ketekunan adalah
pedang yang tiada ia diletakkan pada sesuatu pasti akan terputuslah sesuatu
tersebut. Dan bumi Allah tidak akan sepi dan kekurangan dari orang yang
menegakkan agama Allah denagn hujahnya. Sungguh telah bersabda RasuluLlah SAW
,”Tidak henti-hentinya diantara umatku yang selalu menegakkan kebenaran (haq)
dan segala sesuatu tidak akan dapat membahayakan mereka sampai Allah meetapkan
keputusanNya. Mereka itulah pelita dunia, dan pemegang amanah, dan pewaris para
Nabi SAW. Mereka itulah tentara Allah (HizbuLlah) dan ketahuilah sesungguhnya
tentara Allah adalah oraang-orang yang beruntung.
FASAL
11
dan wajib bagi kamu untuk selalu
memperbaiki i’tiqadmu dan memperkokohnya atas golongan yang selamat yaitu yang
dikenal diantara beberapa golongan Islamiyah seagai i’tiqad Ahlussunah wl
Jama’ah. Dan mereka selalu berpegang teguh dengan apa yang datang dari
RasuluLlah SAW dan para sahabat. Dan engkau apabila melihat mereka dengan
sungguh-sungguh, dengan sepenuh hati didalam memperhatikan hukum-hukum Al
Qur’anul Kariim, dan sunah Rasul yang mengandung ilmu-ilmu keimanan, dan
golongan yang berjalan pada jalan ulama salaf dari para sahabat,
tabi’in, maka engkau akan membenarkan bahwa kebenaran yang nyata adalah yang
sebagaimana disampaikan oleh golongan Asy’ariyah yang dinisbatkan kepada Syaikh
Aby Hasan Al Asy’ary RA yang telah menyusun akidah ahlul haq/ ahli
kebenaran yaitu aqidah yang telah disepakati oleh para sahabat dan orang-orang
sesudah mereka dari golongan tabi’in. Akidah ini (ahlussunah wal jama’ah)
adalah akidah ahli kebenaran dari setiap zaman dan tempat dan ialah akidah yang
dipakai oleh para ahli tasawwuf sebagaimana yang disampaikan oleh Syaikh
Abul Qasim AL Qusyairy RA dalam permulaan risalahnya , “…Aqidah kami adalah
akidah saudara kami dari orang-orang yang mulia yang terkenal dengan Al-Husiainiyyain,
yang dikenal pula dengan Aly Aby Alawy dan juga akidah pendahulu
kami, mulai dari RasuluLlah SAW hingga saai ini. Dan Imam AL Muhajir
Sayyid Ahmad bi ‘Isa bin Muhammad bin Aly bin Al Imam Ja’far As-hadiq RA, ketika
melihat timbulnya bid’ah dan banyaknya perseteruan dan ikhtilaf
di Irak. Maka beliau hijrahlah beliau dari sana, dan berpindah-pindah tempat
hingga sampailah di Hadramaut maka menetaplah beliau disana hingga
wafatnya. Maka Allah telah memberikan berkah kepada beliau dan
pengikut-pengikut beliau sesudahnya yang kemudian membentuk suatu komunitas
yang sangat terkenal bagi perkembangan ilmu pengetahuan agama dan juga daalam
hal ibadah dan kewalian dan ma’rifah. Dan dengan berkah beliau Al
imam Ahmad bin Isa maka senantiasalah tegak akidah islam yang benar dari
para Ahli bait Nabi yang senantiasa mereka menentang bid’ah.
Semoga Allah memberikan pahala yang besar kepada beliau Sang Imam dan
kemudian pula kepada kita semua. Demikian pula semoga Allah mengangkat derajat
beliau beserta para pendahulu beliau yang teramat mulia ke tempat yang tinggi
di sisiNya dan semoga Allah mempertemukan kita kepada mereka kelak di ahirat
sesungguhnya Allah adalah Dzat yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Dan golongan
Maturidiyah seperti juga golongan Asy’ariyah/ahlusunnah wal jama’ah.
Dan seharusnya dilakukan oleh setiap
orang mukmin untuk selalu memperbaiki i’tiqadnya dengan menjaga aqidah dari
para imam yang telah disepakati kebesarannya dan kedalaman ilmunya, sebagaimana
aqidah yang suci diuraikan oleh Imam Al-Ghazali RA, yang jauh dari kekeruhan
yang telah disusun pada fashal pertama dari kitab qawaa’idul Aqaa’id dari
kitab Ihya’ Ulumuddin. Maka wajib bagi kamu menelaah kitab tersebut.
Jika kamu ingin yang lebih dari itu maka dapat mempelajari kitab Risalah
Al-Qudsiyah yang disusun pada fashal ke tiga dari kitab tersebut. Dan
janganlah engkau menyibukkan dirimu dengan ilmu kalam dan memperbanyak
pembahasannya dengan harapan akan mencapai ma’rifah karena sesungguhnya engkau
tidak akan mendapatkan hakikat ma’rifat melalui ilmu kalam tersebut.
Akan tetapi jika engkau benar-benar menginginkan hakikat ma’rifah, maka
wajiblah bagi kamu menempuh jalan (suluukuththariiq) yaitu melanggengkan
taqwa secara lahir maupun bathin dan selalau berpegangan kepada ayat
Al-Qur’an maupun sunah Nabi SAW. Dan lihatlah pada alam semesta di langit dan
bumi dengan tujuan mengambil pelajaran dan memperbaiki akhlak diri sendiri
dengan membaguskan riyadhah dan menjernihkan cermin hati dengan selalu
berzikir dan tafakur dan berpaling dari segala sesuatu yang menyibukkan diri
dari berkonsentrasi akan hal yang demikian. maka jalan yang demikianlah yang
apabila ditempuh niscaya akan mendapatkan hasil yang baik dari apa yang
diinginkan dan akan membuahkan kedekatan kepada Allah Insya Allah. dan golongan
Shufi telah melakukan usaha yang kerasa / mujahadah bagi diri
mereka sendiri dan juga riyadhah serta menghentikan kebiasaan kehidupan
mereka sehari-hari karena mereka mengetahui hanya dengan jalan inilah mereka
memperoleh ma’rifat yang sempurna. dan dengan kesempurnaan ma’rifah maka
akan sempurna pula dalam menetapi amaqam ‘ubudiyah /penghambaan diri
kepada Allah Ta’ala
FASAL
12
Dan wajib bagi kamu untuk
melaksanakan fardhu / kewajiban serta menjauhi perbuatan yang haram
dan wajib pula memperbanyak amalan sunah. Maka sesungguhnya engkau jika
dapat melaksanakan hal yang demikian secara ikhlas liwajhiLlah, karena
Allah Yang Maha Mulia maka engkau akan berhasil mencapai kedekatan yang
sesungguhnya dengan Allah Ta’ala. Dan Allah pun akan memberikan kepada engkau
pakaian mahabbah / cinta kepadaNya yang melingkupi dan mempengaruhi dari
mahabbah tersebut akan segala tingkah laku gerak dan diammu semata-mata karena
Allah dan dengan Allah (liLlah dan BiLlah). dan itulah mahkota kewalian
dan mahkota kekhalifahan yang di isyaratkan oleh junjungan kita
baginda RasuluLlah SAW dengan sabda beliau yang meriwayatkan dari Allah
SubhanaHu wata’ala, “sesungguhnya Allah Ta’ala berifrman, Tiada
sekali-kali hambaKu mendekatkan diri kepadaKu yang lebih Aku cintai daripada
mereka yang mengerjakan apa yang Aku fardhukan kepada mereka. Dan tidak
henti-hentinya hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan mengerjakan amalan
sunah sehingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya maka Aku
menjadi pendengarannya ketika ia mendengar, dan menjadi penglihatannya ketika
ia melihat, dan menjadi tangannya ketika ia memegang, dan menjadi kakinya
ketika ia berjalan. Jika ia meminta kepadaKu niscaya Aku beri, jika ia meminta
perlindungan kepadaKu niscaya Aku beri perlindungan…..
Oleh karena itu lihatlah…semoga
Allah merahmatimu, akan beberapa rahasia / asrar dan beberapa pengetahuan
yang tertuang dalam hadits Qudsi di atas, dan perhatikanlah dengan
sungguh-sungguh secara mendetail apa yang termaktub di dalamnya tentang apa
saja yang dapat menghantarkan seorang hamba untuk sampai kepada derajad yang
sedemikian tinggi yaitu menjadi kekasih ALlah. Sehingga apa yang ia
cintai adalah sesuatu yang dicintai Allah demikian pula apa yang ia benci
adalah apa yang Allah benci, dan semua itu tidak tercapai kecuali dengan
melaksanakan apa yang diperintahkan Allah dan memperbanyak amalan sunah yang
dicintaiNya dengan mengharapkan kebahagiaan di sisiNya. Oleh karena itu
bersegeralah jika memang engkau memiliki cita-cita untuk dapat sampai kepada
derajat kesempurnaan dan jika pula engkau menginginkan sampai pada derajad rijal
dimana telah jelas dan teranglah jalan untuk menuju kesana.
Dan ketahuilah sesungguhnya Allah
Ta’ala dengan kemurahanNya dan ke baikanNya telah menjadikan amal sunnah sebagai
penambal kekurangan dari amalan fardhu yang sesuai dengan yang
sejenisnya, semisal Shalat fardhu dengan shalat sunah , puasa
fardhu dengan puasa sunah. Dan Fardhu adalah pokok / dasar sedangkan
sunah adalah cabang atau yang mengikuti amal fardhu. Dan
orang-orang yang mengerjakan kewajiban fardhu, dan menjauhi perbuatan haram
namun tidak melakukan ibadah sunah adalah lebih baik daripada orang yang
bersungguh-sungguh melakukan ibadah sunah akan tetapi melalaikan ibadah fardhu.
Dan takutlah kamu untuk meninggalkan
ibadah fardhu dan lebih mengutamakan ibadah sunah maka engkau akan berdosa
dengan meninggalkan keutamaan ibadah fardhu dan Allah tidak akan menerima
ibadah sunahmu. Hal yang demikian dapat terjadi seperti orang yang menyibukkan
diri dengan ilmu tentang amalan sunah dan meninggalkan mempelajari ilmu tentang
fardhu baik dalam dhahir maupun bathinnya.
Dan ketahuilah sesungguhnya engkau
tidak akan sampai kepada melaksanakan kewajiban yang diperintahkan Allah
kepadamu dari perbuatan ta’at, demikian pula menjauhi dalam hal enjauhi apa
yang dilarangNya untukmu dari beberapa ma’siyat dan pula dari beberapa cara
mengerjakan amalan sunah yang dapat mendekatkan dirimu kepadaNya kecuali
dengan ilmu. Maka wajib bagimu mencari ilmu tersebut, dan telah bersabda
RasuluLlah SAW ,”Mencari ilmu adalah wajib bagi setiap orang islam .
Dan dengan ilmu engkau akan mengetahui hal yang wajib adalah wajib dan
yang haram adalah haram, demikian pula yang sunah adalah sunah. dan pula engkau
mengetahui bagaimana cara mengerjakan yang wajib dan sunah dan meninggalkan
yang haram. oleh karena itu tidak boleh tidak engkau memiliki ilmu yang
demikian. dan tidak ada alasan bagimu untuk tidak membutuhkan ilmu ini, dan
mengamalkannya dan selalu mempelajarinya dimana dengan mengamalkannya
maka engkau akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Dan ketahuilah sesungguhnya engkau
tidak akan mampu melaksanakan apa yang diwajibkan bagi kamu oleh Allah SWT
berupa keta’atan, demikian pula dalam menjauhi apa yang dilarang Allah SWT
berupa amalan maksiyat demikian pula dalam menjalankan suari’at yang
diperintahkan kepadamu dari amalan sunah yang dapat mendekatkan dirimu kepada
Allah SWT dan dapat menyelamatkanmu kecuali dengan ilmu. Maka wajib bagi
kamu untuk mencari ilmu, sebagaimana telah bersabda RasuluLlah SAW, “thalabul
ilmi fariidhatun ‘ala kulli muslimin wamusliimatin” yang artinya, mencarim
ilmu adalah wajib bagi orang Islam laki-laki dan perempuan”. Dan dengan ilmu
engkau akan mengetahui bahwa yang wajib adalah wajib, dan yang
sunah adalah sunah, dan yang haram adalah haram. Demikian juga
dengan ilmu engkau akan mengetahui bagaimana cara melaksanakan yang wajib,
mengerjakan yang sunah dan meninggalkan yang haram.
Oleh karena itu tidak boleh tidak
bagi kamu untuk memiliki ilmu Karena yang demikian ini akan mencukupkanmu untuk
memperoleh kebahagiaan diadunia dan di akhirat. Dan ketahuilah sesungguhnya
seseorang yang beribadah kepada Allah SWT tanpa didasari dengan ilmu yang
benar, maka bahaya yang ditimulkan kepada orang yang melaksanakannya disebabkan
ibadahnya itu lebih besar daripada manfaat. Yang dihasilkannya. Berapa
orang yang beribadah hanya memayahkan dirinya saja dalam ibadahnya, sementara
itu ia selalu bermaksiyat kepada Allah SWT sedangkan ia merasa itu adalah
keta’atan atau apa yang ia lakukan itu bukanlah maksiyat.
Asy-Syaikh Al ‘Aarif billah Muhammad
ibnu ‘Arabi menyatakan pada bab wasiyat yaitu seseorang dari ahlil Maghrib
yang mana sesungguhnya ia adalah seorang yang bersungguh-sungguh dalam
beribadah, dan ia memelihara hewan ternak akan tetapi ia diamkan saja dan tidak
dimanfaatkan. Orang-orang bertaynya kepadanya, “mengapa engkau tidak mengambil
manfaat dari binatang ternak itu “?. Iapun menjawab, sesungguhnya ia aku
pelihara hanya aku pergunakan untuk menjaga farjiku. Ia tidak mengetahui
bahwa melakukan persetubuhan dengan hewan adalah haram. Maka ketika ia
mengetahui bahwa yang demikian itu adalah haram, menangislah dia dengan
menangis yang sangat keras ..demikianlah riwayat
Dan ilmu yang wajib bagi setiap
Muslim adalah ilmu yang menyebabkan ia mengetahui semua fardhu yang diwajibkan
Allah SWT kepadanya, dan megetahui semua yang diharamkan kepadanya.
Dan wajib bagi kamu mengetahui tata cara mengerjakan sesuatu yang wajib.
Misalnya orang islam yang telah balig, maka wajib baginya segera mengetahui
ma’na dua kalimat syahadat, dan wajib mengetahui kewajiban shalat lima waktu dan
apa yang wajib dari shalat tersebut seperti rukun-rukunnya, dan hokum-hukumnya.
Dan wajib pula baginya untuk mengetahui wajibnya puasa dan zakat dan haji dan
lain sebagainya dari perkara-perkara wajib. Demikian pula wajib baginya
mengetahui haramnya zina, meminum khamr, dan mengambil harta orang lain secara
bathi. Dll. Akan tetapi belum wajib baginya mengetahui tatacara melakukan puasa
dan hajji kecuali ketika ia memasuki bulan Ramadhan, atau ketika ia mampu untuk
pergi hajji, demikian pula dengan zakat, maka wajib baginya ketika sampai
kepada nishab dan waktu zakat WalLaahu a’lam.
Adapun hal-hal yang diharamkan, dan
hal-hal yang wajib yang telah nyata, semua itu telah diketahui bersama diantara
kaum Muslimin hampir tidak ada yang tersembunyi. Oleh karena itu yang
terpenting adalah mengetahui beberapa hukum dari hal yang tersebut di atas, dan
benar pula bahwasanya belum cukup mengetahui hukum saja, akan tetapi perlu juga
berinteraksi dengan para alim ulama yang takut kepada Allah SWT
Dan wajib pula bagi kamu untuk
selalu malakukan apa yang mereka amalkan, demikian pula menjauhi apa yang
mereka tinggalkan karena mengikuti jejak mereka, karena sesungguhnya tidak akan
menjadi baik dalam hal mengikuti agama kecuali kepada para alim ulama yang
mengamalkan ilmunya. Sesungguhnya pada saat sekarang ini sulitlah dijumpai
ulama yang benar-benar mengamalkan ilmunya. Oleh karena itu apabila pada zaman
sekarang ini engkau melihat orang alim yang melakukan sesuatu amalan atau
meninggalkan sesuatu yang mungkin disebabkan karena kedunguan dan keabthilan,
maka tidak cukuplah pendapat hanya satu orang tersebut dalam meninggalkan atau
melakukan sesuatu amal, sehingga engkau menanyakan kepadanya akan alasannya
dalam melakukan sesuatu tersebut dari sudut pandang syari’at dan dari sudut
pandang hukum di dalam agama Islam.
Dan tidaklah terlalu dibutuhkan bagi
seorang Muslim dalam mendapatkan pengetahuan tentang fardhu dll, hingga sampai
memakan waktu yang lama, dan hamper yang demikian inidapat menimbulkan
kepayahan baginya. Akan tetapi uckup baginya dalam mendapatkan ilmu tadi dengan
duduk bersama seorang ulama yang benar-benar bertaqwa satu jam atau dua jam
saja, sebagaimana pernah terjadi ada seorang arab badui datang kepada
RasuluLlah SAW dimana beliau SAW sedang berkhutbah di atas mimbar. Orang
arab tersebut meminta kepada Nabi SAW untuk mengajarinya tentang agama yang
datang dari Allah. Maka turunlah Nabi SAW dari mimbar dan memberinya ilmu ,
setelah itu beliau SAWnaik lagi ke mimbar dan menyempurnakan khutbah beliau
SAW.
Termasuk hal yang demikian, barang
siapa yang menginginkan keselamatan dirinya, maka wajib baginya dalam
mengerjakan sesuatu sekali kali tidak melakukannya kecuali setelah mengetahui
hukum Allah di dalamnya seperti wajib atau sunah, atau mubah atau haram, karena
sesungguhnya semua urusan tidak terlepas dari salah satu 4 hukum tadi.
Kemudian orang mukmin terbagi kepada
dua bagian, awam dan khusus. Termasuk orang umum/awam terkadang mereka
telah meninggalkan hal yang wajib dan mengerjakan hal yang haram, dan yang
terbaik dari mereka adalah mereka yang bersegera bertaubat dan meminta
ampun kepada Allah SWT. Demikian pula mereka tidak menjaga amalan sunnat
dan terkadang lalai tenggelam dalam hal-hal yang mubah.
Adapun orang khusus adalah
mereka mengerjakan yang wajib, dan meninggalkan yang haram dalam setiap keadaan
dan mereka menjaga amalan sunah dan menyedikitkan amalan mubah yang
hanya mereka lakukan dalam rangka untuk mendukung menjalankan perintah dan
menjaui larangan Allah SWT
FASAL
13
dan wajib bagi kamu untuk selalu
menjaga kesucian lahir dan bathinmu karena barang siapa yang sempurna
kesuciannya maka ruh nya dan sirrinya akan menyerupai malaikat
secara ruhaniyah meskipun jasadnya adalah seorang manusia. Telah
bersabda RasuluLlas SAW, “Buniyaddiijn ‘ala nadhaafah” yang artinya, “Sesungguhnya
agama ditegakkan di atas kebersihan”. Dan juga telah bersabda SAW, “InnaLlaaha
nadhiif yuhibbunnadhaafat” yang artinya, “sesungguhnya Allah itu suci
dan cinta kepada kesucian”.
Dan kesucian bathin dapat dihasilkan
dengan membersihkan hati dari akhlak yang tercela seperti takabur, riya’
hasud, cinta dunia, kemudian menghiasinya dengan akhlak yang mulia seperti tawadhu’,
malu, ikhlash, dan pemurah dan lain sebagainya.
Adapun hakikat dari akhlak yang
demikian, dan jalan untuk melepaskan diri dari akhlak tercela, dan jalan untuk
mendapatkan keutamaan akhlak tersebut semua itu telah dikumpulkan oleh Imam
Al-Ghazali RA pada bagian ke dua dari kitab Ihya’Ulumuddin oleh
karena itu wajib bagi kamu untuk mempelajarinya.
Sedangkann kesucian perbuatan zahir
akan dapat diperoleh dengan meninggalkan apa yang dilarang oleh agama dan
melaksanakan apa yang diharuskan. Oleh karena itu barang siapa yang menghiasi
dirinya dengan selalu melakukan amal shalih, dan memenuhi bathinnya dengan
akhlak yang terpuji niscaya sempurnalah kesuciannya
Dan termasuk bagian dari
membersihkan zahir adalah apa yang telah ditunjukkan oleh syara’ seperti
menghilangkan kotoran di badan, memotong bagian tubuh yang berkebih seperti
merapikan kumis, memotong kuku dimulai dari jari telunjuk kanan terus berurutan
sampai ujung jari paling kiri, kemudian dilanjutkan tangan kiri dimulai dari
jari paling kiri berurutan sampai ibujari kiri, kemudian diakhiri dengan ibu
jari tangan sebelah kanan. Dan mensucikan diri dari hadats dan najis,
Adapun memotong kuku pada kaki maka
disunahkan dimulai dari jari paling kanan pada kaki sebelah kanan, terus
berurutan kekiri hingga berakhir pada jari paling kiri pada kaki sebelah kiri
sebagaimana kalau menyela jari ketika berwudhu. Dan dimakruhkan mengulur waktu
di dalam membersihkan anggota badan yang berlebih tersebut lebih dari 40 hari.
Termasuk juga membersihkan daki yang ada di badan dengan menggosok hingga
bersih kemudian disiram dengan air, demikian juga tertmasuk membersihkan
kotoran yang terdapa pada ujung mata, dan termasuk juga membersihkan sisa-sisa
makanan di sela-sela gigi.
Dan wajib bagi kamu membersihkan
mulutmu dengan siwak menggunakan kayu araq lebih utama, dan lebih
ditekankan ketika hendak melaksanakan ibadah seperti shalat atau membaca
Al-Qur’an dan lain sebagainya, dan mencuci bajumu dengan air apabila ia kotor.
Dan termasuk juga dalam menyempurnakan kebersihan adalah menggunakan minyak
untuk rambut dan jenggot, dan memakai celak mata dari itsmid pada
tiap-tiap mata tiga kali usapan. Sesungguhnya RasuluLlah SAW bercelak pada
tiap-tiap malam. Demikian pula memakai wewangian karena wewangian dapat
menyebabkan udara menjadi harum yang dapat menyenangkan orang yang menghirupnya
dan ditekankan pada saat menghadiri shalat jum’at dan beberapa pertemuan yang
dihadiri umat islam. Sesungguhnya RasuluLlah SAW menyukai wewangian dan
memperbanyakkannya bahkan sesungguhnya RasuluLlah SAW sendiri tubuh beliau
telah wangi dengan sendirinya meski tanpa menggunakan wewangian hingga sebagian
para sahabat mengumpulkan tetesan keringat beliau dan menggunakannya
sebagai wewangian. Dan disunahkan bagi orang laki-laki menggunakan minyak wangi
yang tajam baunya akan tetapi samar warnanya. Sebaliknya bagi orang perempuan
disunahkan menggunakan minyak wangi yang samar bahunya dan jelas warnanya.
Dan wajib bagi kamu menjaga diri
dari najis secara keseluruhan. Apabila ada najis mengenai dirimu maka segera
bersihkan karena najis itu dapat menghalangimu dari Allah SWT, bukankan Allah
telah melarang mengenakan pakaian yang terkena najis untuk mengerjakan
shalat maupun membaca Al-Qur’an
FASAL
14
Dan telah datang penjelasan
bahwasanya Malaikat tidak akan pernah memasuki suatu rumah yang di dalamnya
terdapat orang yang berjunub. Apabila malaikat telah pergi, maka akan
datanglah syaithan dari segala penjuru. Oleh karena itu takutlah kamu jika
engkau makan atau tidur dalam keadaan junub sehingga engkau akan
mengalami bahaya disebabkan hal yang demikian itu. Apabila engkau tidak mampu
untuk melakukan mandi jinabat seketika, maka berusahalah agar engkau
dapat mencuci farji dan berwudhu’. Dan wajib bagi kamu untuk selalu
memperbaharui wudhu’ pada setiap mengerjakan shalat fardhu, dan
berusahalah agar engkau selalu dalam kondisi bersuci (menanggung wudhu) dan
bersegeralah perbaharui wudhu apabila engkau berhadats karena sesungguhnya wudhu’
adalah senjata orang Mukmin. Dan manakalah senjata selalu berada di tangan,
maka musuh pastilah akan selalu menjauh darimu. Dan sungguh telah datang
seseorang menghadap kepada Syaikh Abi Al-Hasan Asy-Syadzily RA untuk
mengajarinya ilmu kimia, maka Syaikh memerintahnya untuk
mendampingi beliau selama satu tahun dengan syarat selalu memperbaharui wudhu
apabila berhadats, kemudian mengerjakan shalat dua reka’at. Maka Syaikh akan
mengajarinya ilmu kimia setelah itu. Maka setelah sempurna satu tahun,
pergilah lelaki tersebut ke sebuah sumur dengan maksud hendak mengambil air
minum dari sumur itu, dan secara tiba-tiba dipenuhilah timba itu dengan emas
dan perak. Maka dibuanglah kembali emas dan perak itu ke dalam sumur karena zuhudnya
daripada emas dan perak tadi. Maka kembalilah lelaki tersebut menghadap Syaikh
Abi Al-Hasan Asy-Syadzily RA dan menceritakan apa yang telah terjadi. Maka
berkatalah Syaikh kepada orang itu, “Sekarang engkau telah menjadi seorang ahli
kimia. Dan Syaikh memerintahkannya ntuk menyeru manusia ke jalan Allah.
Dan wajib bagi kamu untuk
mengerjakan shalat dua rekaat setelah berwudhu’ dan jika engkau tidak mampu
untuk melanggengkan bersuci maka berusahalah engkau tidak meninggalkan wudhu
ketika engkau duduk di dalam masjid, dan ketika membaca Al-Qur’an, dan ketika
mengkaji ilmu agama, dan ketika duduk untuk berdzikir dan lain sebagainya dari
beberapa amalan ibadah. Dan apabila engkau mengerjakan wudhu atau mandi jinabat
maka takutlah engkau dengan hanya mengerjakan fardhunya sahaja, akan tetapi
sebaiknya engkau juga harus menjaga sunah-sunahnya pula.
Dan sebaiknya bagi kamu untuk mandi
pada sebagian waktu dengan niat membersihkan diri meskipun engkau tidak dalam
keadaan jinabat. Dan telah pula datang penjelasan tentang mandi teesebut
seperti mandi pada hari Jum’ah maka menjadi suatu keharusan bagi kamu untuk
melaksanakannya. Demikian pula pada waktu-waktu yang lain . dan apabila telah
selesai melaksanakan wudhu’ demikian pula mandi, maka ucapkanlah “Asy hadu
An-Laa Ilaaha IllaLlaah wahdaHu Laa Syariika laHu, wa Asyhadu Anna Muhammadan
‘AbduHu wa RasuuluH.
Dan wajib pula bagi kamu untuk
selalu menjaga tatakrama sebagaimana yang termaktub di dalam As-Sunnah baik
secara lahir maupun bathin demikian pula dalam kebiasaan sehari-hari maupun
ketika melaksanakan ibadah, dengandemikian maka akan sempurnalah Mutaba’ah dan
sempurna pula bagimu dalam mengikuti jejak RasuluLlah SAW yaitu Rasul
Yang penuh rahmah dan Nabi yang membawa petunjuk ke jalan yang lurus.
Jika engkau menginginkan termasuk menjadi golongan Ash-Shiddiqiin, maka
janganlah engkau melakukan sesuatu baik itu merupakan amal kebiasaan
sehari-hari terlebih lagi suatu amalan ibadah kecuali engkau mengetahui dan
melihat adakah RasuluLlah SAW, juga para sahabat RA sama ada melakukan hal yang
demikian atau tidak. Apabila engkau tidak mendapati Mereka melakukan hal yang
demikian, maka tahanlah dirimu untuk tidak mengerjakannya meskipun perbuatan
tersebut termasuk sesuatu yang mubah karena sesungguhnya mereka tidak
memasuki amalan tersebut melainkan telah datang khabar / ilmu kepada
mereka dalam hal meninggalkan amalan tersebut. Dan apabila engkau mengetahui
bahwa mereka mengerjakan / memasuki sebuah amal perbuatan, maka yang pertama
ketahuilah bagaimana tata cara mereka mengerjakan amalan tersebut
Dan ketehuilah barang siapa yang
menjaga kebiasaan sehari-hari dengan adab / tata krama yang diajarkan
Nabi SAW, maka Allah akan menjaga dirinya daik secara lahir maupun bathinnya
dihindarkan dari tabi’at dan akhlak yang tercela, dan ia akan
mendapatkan kebaikan dan manfaat baik dalam hal agama maupun perkara duniawiyahnya.
Dan bagi seseorang yang menginginkan kesempurnaan dan kemerdekaan diri serta
kesucian diri dari kotoran, maka hendaklah menjadikan semua gerak dan diamnya
baik secara zahir maupun bathinnya selalu dalam kerangka undang-undang syari’ah,
mengikuti isyarah syar’i dan akal. Dan tercelalah suatu kebiasaan
bagi orang-orang saleh adalah yang dimaksud sebagai ketundukan dalam hal
mengikuti syahwat dan hawa nafsu dan menurutinya, bukannya mengikuti tuntunan syar’i
. apa yang disampaikan di atas adalah yang berkenaan dengan ‘adah /kebiasaan
sehari-hari. Adapun berkenaan dengan masalah ibadah, maka meninggalkannya adalah
suatu kekufuran yang sangat halus / tersembunyi atau kebodohan yang nyata maka
ketahuilah yang demikian ini.
Dan alangkah baik bagi kamu agar
engkau memulai semua urusanmu dengan didahului dengan menyebut asma Allah
(basmaLah). Apabila lupa dalam melafalkannya pada awwal perkara maka bacalah
ketika ingat BismiLlahi fi awwalihi wa akhirihi . Dan usahakanlah agar
tidak sekali-kali mengerjakan suatu urusan atau kebiasaan sehari-hari melainkan
dengan didasarkan pada niat yang baik. Apabila engkau memakai pakaian, maka
niatkanlah yang demikian ini dengan niat untuk menutup auratmu dimana yang
demikian ini adalah diperintahkan Allah untuk menutupinya. Dan mulailah ketika
mengenakan pakaian dengan bagian sebelah kanan dan apabila melepaskannya maka
akhirkanlah bagian sebelah kanan. Dan ucapkanlah ketika melepas pakaian BismiLlaahilladzii
laa Ilaaha illa Huwa. Dan ucapkan ketika mengenakan pakian dengan do’a Alhamdu
liLlaahilladii kasaanii hadzaa warazaqaniihi min ghairi chaulin minny.
Dan wajib bagi kamu untuk tidak
berkata-kata kecuali tentang sesuatu yang baik. Dan setiap perkataan yang tidak
layak engkau ucapkan. Maka mendengarkannyapun haram bagimu. Dan apabila engkau
berkata-kata, maka tartilkanlah ucapanmu dan janganlah engkau memutus perkataan
seseorang kecuali apa yang mereka katakana adalah sesuatu yang dimurkai Allah
seperti ghaibah. Apabila seseorang berkata kepadamu atau meriwayatkan
suatu kisah atau cerita kepadamu padahal apa yang diceritakan itu menurut kamu
tidak benar, maka kamu berkata kepadanya “Tidak benar apa yang engkau katakana”
akan tetapi katakanlah “sesungguhnya yang benar adalah demikian……..
Dan takutlah kamu untuk
berlebih-lebihan dalam mengatakan sesuatu yang tidak penting dan tidak begitu
engkau fahami kebenarannya demikian pulan benyaknya sumpah atas nama Allah. Dan
janganlah sekali-kali bersumpah atas nama Allah kecuali dalam hal yang benar
dan sangat dibutuhkan sumpah itu. Dan takutlah eungkau akan dusta / bohong
dalam segala hal karena yang demikian ini dapat mengurangi iman.
Dan takutlah engkau akan ghaibah
/ menggunjing orang lain dan namimah / mengadu domba dan jauhilah
segala perkataan yang kotor dan menahan dari ucapan yang buruk sebagaimana
engkau menahannya dari perkataan yang jelek. Dan fikirkanlah tentang apa yang
engkau ucapkan sebelum engkau melafalkannya. Apabila suatu kebaikan, maka
ucapkanlah dan apabila kejelekan maka diamlah. Sebagaimana sabda baginda Nabi
SAW “semua kalam bani Adam adalah baginya bukan untuknya, kecuali dzikir kepada
allah atau amar ma’ruf nahi munkar”. Dan telah bersabda RasuluLlah SAW,
“Allah Ta’ala mengasihi seseorang yang mengucapkan kebajikan maka
menguntungkannya, atau diam dari perkataan buruk maka menyelamatkannya”.
Dan takutlah kamu agar tidak
sekali-kali melangkahkan kaki kecuali untuk kebaikan atau untuk suatu keperluan
/ hahjat. Dan apabila engkau berjalan , maka janganlah tergesa-gesa dan
janganlah engkau sombong dan membusungkan dada ketika berjalan maka engkau akan
jatuh dari pandangan belas-kasih Allah. Dan janganlah engkau benci jika
ada orang berjalan di depanmu, demikian pula engkau merasa senang kalu orang
berjalan di belakangmu karena yang demikian ini termasuk akhlak orang-orang
yang takabur. Dan jangan banyak menoleh sedang engkau dalam keadaan berjalan
dan janganlah engkau menghentikan langkahmu hanya karena agar mendapatkan
keutamaan dari orang untukmu. Karena sesungguhnya Nabi SAW apabila berjalan
seakan tampak seperti turun dari tempat yang tinggi dan apabila beliau diundang
dari belakang maka beliau berhenti dan tidak menoleh.
Dan wajib bagi kamu ketika
duduk, untuk menjaga auratmu. Dan duduklah menghadap ke arah kiblat dalam
keadaan khusyu’ dan janganlah engkau memperbanyak gerakan ataupun berdiri dari
tempat dudukmu. Dan janganlah engkau memperbanyak bersin atau menguap di
hadapan orang banyak. Dan apabila engkau terpaksa menguap maka letakkanlah
tangan kirimu di depan mulutmu. Dan janganlah engkau memperbanyak tertawa
karena yang demikian ini dapat mematikan hati. Dan jika engkau mampu menjadikan
tertawamu itu sebagai senyuman maka lakukanlah. Dan janganlah engkau berdiri
dari tempat dudukmu hingga engkau mengucapkan SubhanaKallahumma wabihamdika
asyhadu allaa Ilaaha illa Anta astaghfiruKa wa atuubu ilaiK. Dan
sesungguhnya telah datang penjelasan yang mengatakan bahwa barang siapa yang
melakukan hal yang demikian maka Allah akan mengampuni dosa dalam majlis
tertsebut. Dan apabila engkau hendak pergi tidur, maka berbaringlah pada
punggungmu sebelah kanan menghadap kiblat dalam keadaan bertaubat atas segala
dosa seraya berkeinginan untuk mendirikan shalat malam dengan berdo’a BismiKaLlaahumma
Rabby wadha’tu janby wa biismiKa arfa’ahu faghfirly dzunuuby. Allahumma fanny
‘adzaabaka yauma Tajma’u ‘ibaadaKa (3X), AstaghfiruLlaahal ‘Adziim
Alladzii laa Ilaaha Illa Huwal Hayyul Qayyumu wa atuubu ilaiH (3X), dan ucapkan
SubhanaLlah (33X), dan demikian pula alhamduliLlah, dan Allahu akbar (34X).
dan bagi orang yang hendak tidur ada beberapa dzikir selain yang tersebut tadi,
maka janganlah lupa (berdzikir)/ mengingat Allah. Dan janganlah
sekali-kali engkau tidur kecuali dalam keadaan suci (dari hadast dan najis) dan
biarlah tidur menghampirimu sedangkan engkau dalam keadaan berdzikir kepada
Allah Ta’ala. Dan janganlah engkau mempergunakan tempat tidur yang nyaman
karena yang demikian akan menyebabkan engkau nyenyak dan banyak tertidur dan
meninggalkan bangun shalat malam. Maka akan besarlah penyesalanmu dan
kerugianmu manakala engkau mengetahui apa yang dijanjikan Allah bagi orang yang
mendirikan shalat malam. Sungguh telah bersabda RasuluLlah SAW, “Kelak pada
hari kiyamat manusia akan dikumpulkan pada satu tempat maka diserukan, ‘Dimana
orang-orang yang jauh punggungnya dari tempat tidurnya hingga ia mendirikan
shalat malam, dan sedikit sekali mereka itu. Maka mereka masuk surga tanpa
hisab’”.
Dan telah bersabda RasuluLlah
SAW, “Telah berkata Ummu Sulaiman (Ibu dari Nabi Sulaiman bin Daud
AS) ‘Wahai anakku, janganlah engkau memperbanyak tidur di malam hari karena
barang siapa yang banyak tidur di malam hari maka kelak di hari kiyamatia akan
datang dalam keadaan faqir. Dan telah berkata Imam Ghazali RA, “Ketahuilah
sesungguhnya siang dan malam terbagi dalam 24 jam. Maka jangan sampai tidurmu
melebihi dari 8 jam, karena jika umurmu mencapai 60 tahun niscaya engkau telah
menyia-nyiakan waktu selama 20 tahun yaitu 1/3 nya. Dan apabila engkau
berkeinginan untuk tidur, maka berusahalah agar engkau berbaring pada punggung
sebelah kananmu dalam keadaan menghadap kiblat dan berusahalah untuk tidak
membelakanginya. Akan tetapi apabila tidurmu engkau maksudkan hanya untuk
beristirahat dan bukannya tidur sungguhan, maka tidak mengapa / bolehlah engkau
berbaring dengan punggung sebelah kiri pada waktu qaelulah (tidur siang
sebentar untuk memulihkan tenaga), dengan maksud agar nanti malam menjadi kuat
untuk melaksanakan shalat malam. Dan takutlah engkau untuk tidur setelah shalat
subuh karena yang demikian dapat menyebabkan kefaqiran dan demikian pula
tidur setelah waktu ashar karena dapat menyebabkan junun / gila. Apabila
dalam tidurmu engkau melihat / bermimpi dengan sesuatu yang membahagiakanmu,
maka pujilah Tuhanmu.dan apabila engkau bermimpi tentang sesuatu yang
menggelisahkan/menyusahkanmu, maka memohonlah perlindungan kepada Allah serta
robahlah posisi tidurmu pada sebelah punggung yang lain, dan janganlah engkau
ceritakan mimpi itu kepada seseorang, karena mimpi itu tidaklah akan
membahayakanmu. Dan apabila ada seseorang menceritakan mimpinya kepadamu, maka
janganlah engkau menta’wil mimpi itu hingga orang itu sendiri
yang memintanya, atau orang itu memberikan ijin kepadamu untuk menta’wilkan
mimpi itu.
Dan apabila engkau makan atau
minum maka awalilah dengan basmaLlah diakhiri dengan alhamduliLlah.
Makan dan minumlah dengan menggunakan tangan kanan. Dan apabila dihidangkan
makanan di hadapanmu maka ucapkanlah doa “Allahumma baarik lanaa fiimaa
razaqtanaa wa ath’amanaa khairan minhu.” Kecuali apabila dihidangkan susu
maka ucapkanlah wazidnaa minhu. Karena sesungguhnya tiada hidangan yang
lebih baik daripada air susu.
Dan wajib bagimu untuk mencuci
tangan sebelum makan, demikian pula sesudahnya. Menyedikitkan suapan dan
mengunyahnya sampai halus. Dan janganlah engkau mengulurkan tangan untuk
mengambil makanan hingga engkau telah menelan apa yang ada di mulutmu. Dan
makanlah dari sebelah pinggir, jangan makan dari tengah-tengah hidangan. Dan
apabila ada makanan yang terjatuh, maka ambil dan bersihkanlah bahagian yang
kotor kemudian makanlah. Janganlah engkau sisakan makanan untuk syaithan. Dan
bersihkanlah (dengan mengulum) jari jemarimu sesudah engkau makan, dan makanlah
dengan jari telunjuk, jari tengah serta ibu jari. Dan apabila memerlukan
bantuan dengan jari jemari yang lain semisal kelingking maka tidak mengapa.
Apabila engkau makan bersama-sama orang lain, maka makanlah dari apa yang
paling dekat darimu, dan janganlah engkau banyak menoleh / memandang kepada
orang lain yang hadir dan janganlah berbicara dengan mereka selagi makan
kecuali yang sesuai dan mendukung suasana saat itu. Janganlah engkau
bercakap-cakap sedangkan di dalam mulutmu masih dipenuhi makanan. Apabila
selesai makan maka ucapkanlah do’a “AlhamduliLlah, Allahumma kamaa
ath’amTany thayyiban ista’milny shaalihan. AlhamduliLlahilladzii ath’amany
hadza tha’aam, warazaqaniihi min ghairi haulin minny walaa quwwatin. Barang
siapa yang berbuat demikian maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lewat
dan yang akan datang.
—dan janganlah keinginanmu pada
makanan hanya untuk mendapatkan kelezatan dan memenuhhi syahwat semata karena
yang demikian akan seperti orang yang disabdakan oleh RasuluLlah SAW,
“Seburuk-buruk umatku adalah mereka yang sarapan dengan hal-hal yang nikmat,
dari makanan ini jasadnya tumbuh akan tetapi himmah atau hasratnya hanyalah
kepada beraneka macam makanan dan bermacam-macam pakaian.”
Sayyidina Ali KarramaLlahu Wajhah
berkata, “Barang siapa yang hasratnya hanya sebatas apa yang masuk ke dalam
mulutnya, maka bagiannya adalah sebatas apa yang keluar dari dirinya (kotoran)”
Maka berusahalah dengan
sungguh-sungguh agar tidak sekali-kali masuk ke dalam perutmu kecuali sesuatu
yang halal, karene barang siapa yang memakan sesuatu yang halal selama 40 hari,
maka akan bersinarlah hatinya dan akan mengalir dari hatinya beberapa mata air
hikmah melalui lisannya. Dan Allah akan memuliakannya dengan zuhud terhadap
dunia, dan akan sucilah sirrinya, dan akan menjadi bagus muammalahnya terhadap
Tuhannya. Dan barang siapa yang makan sesuatu yang haram dan syubhat, maka
kebalikannyalah yang ia dapatkan. Dan takutlah dirimu dalam memperbanyak makan
dan bersangatan dalam kekenyangan karena sesungguhnya meskipun makanan tersebut
dari barang yang halal maka hal itu merupakan permulaan dari keburukan. Dan
termasuk bahaya perut kenyang adalah mengerasnya hati dan rusaknya kecerdasan
dan keragu-raguan pikiran dan malas menjalankan ibadah dan lain sebagainya dari
beberapa bahaya. Dan jalan tengah (sedang) dalam hal makan adalah jika engkau
menahan diri dari makanan sedangkan engkau sangat menginginkannya dan tidak
sekali-kali mengulurkan tangan mengambil makanan kecuali engkau sangat membutuhkannya
dengan keinginan yang benar. Dan tanda dari keinginan yang benar adalah jika
engkau merasa ingin terhadap semua jenis makanan (tanpa membeda-bedakannya).
Dan berkasih sayinglah
terhadap keluargamu dan apaibla engkau menghendaki hendak menggauli isterimu
maka bacalah ayat WaHuwaLladzii khalaqa minal maa’I basyaran …Al-ayat .
dan yang lebih utama dari kamu apabila kamu mahu menikah. Dan boleh saja
meninggalkannya (tidak menikah) apabila dirasa hal itu lebih membawa
keselamatan bagi agamanya dan lebih beik bagi hatinya dan lebih menyatukan
fikirannya. Dan dimakruhkan dengan sangat bagi orang yang tidak menikah jiak ia
memikirkan hal ihwal tentang wanita yang membawa hati dan fikiran untuk condong
kepadanya (wanita). Dan bagi orang yang dicoba dengan hal yang demikian
sedangkan ia tidak mampu menahannya, maka wajib baginya melakukan puasa karena
sesungguhnya puasa adapt menghancurkan syahwat.
Dan apabila engkau berniat
untuk masuk ke kamar mandi untuk keperluan buang air besar maupun kecil, maka
kenakanlah alas kakimu dan tutuplah kepalamu dan dahulukan kaki kirimu ketiak
masuk dan dahulukan kaki kanan ketika keluar. Dan ucapkan ketika memasuki kamar
mandi BismiLlah Allahumma inny a’udzubika minal khubutsi wal khabaaits. Dan
ketika keluar mengucapkan Ghufraanaka AlhamduliLlahilladzii adzhaba ‘annyl
adza wa’afany. Dan janganlah engkau berdzikir kepada Allah dalam keadaan
yang demikian kecuali hanya di dalam hati. Dan janganlah engkau membawa sesuatu
yang padanya tertulis asma Nya yang demikian ini dikarenakan mengagungkanNya.
Dan janganlah engkau bercakap-cakap kecuali terpaksa (darurat). Dan janganlah
engkau angkat pakaianmu kecuali sebatas engkau takut akan terkena najis padanya
dan tutuplah sekiranya orang tidak dapat melihatmu dan berusahalah menjauh sekira
orang tidak memndengarmu atau mencium bau kotoran, dan janganlah menghadap
kiblat atau membelakanginya ketika buang hajat. Dan janganlah engkau buang
hajat pada air yang menggenang meskipun volumenya banyak kecuali karena
terpaksa dan tidak pula buang air ke dalam tanah berlubang dan tempat
bertiupnya angin (sehingga bahunya mengganggu orang lain). Semua itu adalah
kehati-hatian dalam buang air di mana kebanyakan adzab kubur adalah disebabkan
olehnya. Dan apabila engkau bersin maka jagalah suaramu dan tutuplah mulutmu
dan ucapkanlah AlhamduliLlahi Rabbil Alamiin
Dan suatu keharusan bagimu untuk
menutupi tempat makanan dan minuman dan menutup pintu rumah terlebih ketika
tidur dan ketika meninggalkan rumah. Dan janganlah sekali-kali engkau tidur
sehingga telah mematikan semua api di dalam rumah dari lampu, dan lain-lain.
Dan apabila di pagi hari engkau dapati tempat air dan makan minum telah terbuka
terbuka maka janganlah engkau meminum air yang berada di dalamnya dan janganlah
engkau pergunakan air itu selain untuk keperluan membersihkan najis karena air
tersebut suci akan tetapi dalam penggunaannya mengandung bahaya. Telah
memperingatkan Syaikh Ibnu Araby dalam kitab futuhaat “sesungguhnya
dalam keadaan malam hari ada hal yang penting yaitu turunnya beberapa penyakit.
Apabila terdapat tempat makan/minum yang terbuka maka masuklah penyakit itu.
Dan karena itulah RasuluLlah SAW memerintahkan untuk menutup tempat air dan
makan minum. Dan apabila engkau tidak mendapati sesuatu untuk menmutupi semua
itu maka sebutlah asma Allah dan bertawakallah kepada Allah sesungguhnya Allah
mencintai orang-orang yang berserah diri
FASAL
15
Dan penting bagimu untuk
berlama-lama dan memperbanyak duduk di dalam masjid dengan niat i’tikaf.
Karena sesungguhnya masjid adalah rumah Allah dan sebaik-baik tempat yang
dicintai Allah. Telah bersabda RasuluLlah SAW, “Masjid adalah rumah bagi setiap
orang yang bertaqwa”. Dan telah bersabda RasuluLlah SAW, “Jika engkau melihat
seseorang memakmurkan masjid, maka saksikanlah bahwa ia adalah orang beriman”.
Dan telah berfirman Allah SAW, “Sesungguhnya yang memakmurkan masjid adalah
orang – orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir”. RasuluLlah SAW telah
menjanjikan tujuh golongan yang Allah akan memberikan naungan dari ‘ary-Nya
kelak di hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan Allah maka
salah satu diantara mereka adalah seseorang yang hatinya bergantung kepada
masjid. Akan tetapi wajib bagimu ketika engkau duduk-duduk di dalam masjid maka
jagalah etika dan tatakrama dan cegahlah diri dari memperbanyak pembicaraan (fudhuulil
kalaam), terlebih lagi pembicaraan hal haram.
Dan apabila engkau jumpai di dalam
masjid suatu pembicaraan tentang urusan dunia, maka suruhlah keluar dari
masjid. Dan janganlah engkau sibukkan dirimu di dalam masjid kecuali dalam
urusan ibadah semata. Karena sesungguhnya masjid tidak didirikan kecuali
hanya untuk ibadah kepada Allah di dalamnya. Dan apabila engkau memasuki masjid
maka dahulukanlah kakimu yang sebelah kanan dan ucapkanlah BismiLlah
washalaatu ‘ala RasuliLlah. Allahummagh firly dzunuuby waftahly abwaaba
rahmatiKa. Dan janganlah sekali-kali engkau duduk sehingga engkau telah
melakukan shalat dua reka’at. Jika tidak memungkinkan melaksanakan shalat, maka
ucapkanlah do’a SubhanaLlahi wal hamdu liLlah wa laa ilaaha illaLlah waLlahu
Akbar 4 (empat) kali. Dan apabila engkau keluar dari masjid, maka
dahulukanlah kakimu yang kiri dan ucapkanlah do’a seperti ketika memasuki
masjid akan tetapi pada kalimat abwaaba rahmatiKa diganti dengan abwaaba
fadhliKa. Dan tambahlah kalimat A’udzu bilLahi minasyaithanirrajiim wa
junuudihi.
Dan apabila engkau mendengar suara mu’adzin
maka tirukanlah seperti apa yang di ucapkan mu’adzin kecuali pada dua buah
kalimat hayya maka jawablah dengan kalimat la haula walaa quwwata
illa bilLah. Dan jawablah pada kalimat ashalaatu khairun minannaum pada
adzan subuh dengan jawaban shadaqta wa bararta. Dan apabila engkau
selesai menjawab panggilan adzan, maka lanjutkanlah dengan membaca
shalawat kepada Nabi SAW kemudian ucapkanlah kalimat Allahumma Rabby
hadzihidda’watittaammah washalaatil qaaimah aati Muhammadal washiilah wal
fadhiilah wab’atshu maqaamam mahmuuda’lladzii wa’adTaH. Dan perbanyaklah
berdo’a antara adzan dan iqamah sebagaimana sabda Nabi SAW ”Do’a diantara
dua adzanadalah tidak ditolak . dan termasuk do’a yang dibaca pada saat
yang demikian adalah Allahumma inny as alukal ‘afiyah fiddunya wal aakhirah.
Dan sungguhntelah datang penjelasan di dalam sunnah tentang do’a tersebut
pada waktu-yang lain. Maka penting bagimu dengan do’a ini karena sesungguhnya
do’a tersebut termasuk kumpulan / intisari do’a dan lebih utama.
FASAL
16
Dan suatu keharusan bagimu untuk
bersegera mempersiapkan diri untuk mengerjakan shalat pada awal waktu sekiranya
muadzin belum mengumandangkan adzan pada tiap-tiap shalat fardhu melainkan
engkau sudah dalam keadaan berwudhu dan engkau telah hadir di masjid. Jika
engkau tidak dapat mengerjakan yang demikian, maka janganlah kurang dari pada
mempersiapkan diri ketika mendengar suara adzan. Dan sungguh telah bersabda
Nabi SAW, “Keutamaan awwal waktu dibanding dengan akhir waktu seperti keutamaan
akhirat atas dunia”. Dan bersabda Nabi SAW, “Awwal waktu adalah keridhaan
Allah, dan akhir waktu adalah ampunan-Allah” .
Dan wajib bagimu untuk selalu
menjaga sunnah ratibiyah dimana syar’i telah mengajarimu (untuk melakukannya)
sebelum maktubah dan sesudahnya dan takutlah engkau bermalas-malasan dengan
meninggalkannya. Dan manakala engkau tertinggal (sehingga tidak sempat
melaksanakan), maka hendaklah engkau bersegera mengqadha. Dan wajib bagimu
untuk bersikap khusyu’ di dalam shalatmu dan dengan hati yang hadir kepada
Tuhan dan bagusnya sikap ketika berdiri dan tartil dalam bacaan dan
menyempurnakan ruku’ dan sujud dan rukun yang lain-lain dan menjaga sunah-sunahnya
dan beretika / tata krama sebagaimana diterangkan dalam syari’at dan menjaga
diri dari sesuatu yang mengurangi kesempurnaan shalat. Maka sesungguhnya engkau
apabila dapat melakukan hal yang demikian maka hakikat shalat akan keluar dari
tubuhmu dalam keadaan putih bersinar dan ia berkata, “Semoga Allah menjagamu
sebagaimana engkau menjagaku”. Akan tetapi apabila tidak, maka ahkikat shalat
akan keluar dari tubuhmu dalam keadaan hitam legam seraya berkata, “semoga
Allah menyia-nyiakan kamu sebagaimana engkau telah menyia-nyiakanku”.
Talah bersabda SAW, “tiadalah bagi
seseorang dalam shalatnya melainkan sebatas apa yang ia pikirkan di dalam
shalat”. Dan telah berkata Hasan Al-Bashri rahimahuLlah, “Setiap shalat yang
tidak disertai hadirnya hati, maka uqubah (siksanya) lebih cepat, dan syaitan
sangat menginginkan jika seseorang sibuk memikirkan dunia ketika di dalam
shalat, hingga terbuka dalam pikirannya ketika berdiri mengerjakan shalat
tentang beberapa kebutuhan hidupnya dan teringat beberapa perkara yang menyusahkan
hatinya tentang urusan dunia, padahal yang demikian ini tidak pernah
terpikirkan ketika sebelum berdiri mengerjakan shalat. Hal yang demikian inilah
yang menyibukkan hati dari mengingat /berdzikir kepada Allah dan hadir di
hadapannya oleh karena itu para ulama mensyari’atkan untuk membaca Qul a’udzu
biRabbinnas dengan niat untuk menjaga diri dari kejahatan syaitan yang di
rajam”.
Dan sebaiknya tidak terus-menerus
hanya membaca satu surah tertentu setelah membaca Al-Fatihah kecuali
surah-surah yang telah dijelaskan keistimewaannya oleh syara’ seperti
Alif laam miim sajdah, dan ayat hal ataa ilal insaan (dalam shalat subuh hari
jum’at) dan jagalah engkau untuk membaca surah yang ringkas seperti
al-kaafiruun, al-ikhlas, dan mu’awwidzatain ketika engkau menjadi imam.
Sebagaimana riwayat bahwasanya sahabat Mu’adz bin Jabal mengimami suatu kaum
dengan bacaan surah yang sangat panjang. Akhirnya salah seorang dari mereka
mengadu kepada Nabi SAW sehingga Nabi SAW menegur sahabat Muadz RadhiyaLlahu
‘an
FASAL
17
Dan wajib bagimu apabila engkau
melakukan shalat di belakang imam, untuk memperbaiki dan memperbagus mutaba’ah
(mengikuti) imam. Karena sesungguhnya dijadikan imam adalah untuk dita’ati dan
diikuti. Dan takutlah engkau dengan mengiringinya dalam segala sesuatu
perbuatan imam apalagi mendahuluinya. Dan seharusnya engkau menjadikan semua
perbuatan di dalam shalat selalu mengikuti imam. Sesungguhnya telah bersabda
RasuluLlah SAW bahwa orang yang menunduk maupun mengangkat dirinya sebelum imam
sesungguhnya ubun-ubun / kepala orang tersebut berada di tangan
setan. Dan wajib bagi kamu untuk bersegera menempati shaf awal dan takutlah
engkau mengakhirkannya sedangkan engkau mampu melakukannya. Dan telah bersabda
RasuluLlah SAW, “Tiada henti-henti suatu kaum mengakhirkan (dari shaf awwal)
hingga Allah mengakhirkannya” (dari keutamaan dan rahmat) nya.
Telah bersabda RasuluLlah SAW
“Sesungguhnya Allah Ta’ala bershalawat / memberikan rahmatnya kepada shaf
y yang paling depan”. Dan sesungguhnya RasuluLlah SAW memintakan ampun bagi
shaw awwal sebanyak tiga kali dan shaf ke dua satu kali. Dan
bagimu memperhatikan shaf dan meluruskannya . dan apabila engkau menjadi imam
maka memerintahkan meluruskan shaf adalah sesuatu yang diharuskan dan ini
adalah perkara yang penting di dalam syari’at islam akan tetapi kebanyakan
menusia lalai darinya. Dan sungguh RasuluLlah SAW bersungguh-sungguh dalam hal
ini mengaplikasikannya seraya bersabda, “Hendaklah engkau sekalian
meluruskan shafmu, atau semoga Allah mempersatukan di antara hatimu” dan
beliau memerintahkan untuk menutup shaf yang berlubang dan beliau
berkata, “Demi Dzat yang diriku berada di tanganNya sesungguhnya aku melihat
setan masuk di sela-sela shaf seakan-akan ia seperti Al-Khadzf (seekor
kambing kecil.”
Dan wajib bagimu untuk menjaga
shalat lima waktu dengan berjama’ah dan terus menerus demikian karena
sesungguhnya shalat jama’ah lebih utama daripada shalat sendirian dengan 27
derajad sebagaimana diterangkan dalam hadist shahih. Dan takutlah engkau
meninggalkan shalat berjama’ah tanpa udzur atau dengan alasan yang
tidak baik / merusak. Dan ketika engkau mendatangi tempat jama’ah sedangkan
engkau telah mendapati dirimu dalam keadaan telah melakukan shalat di dalam
rumahmu atau engkau duduk di dalam rumahmu untuk berdzikir demi keselamatan
agamamu maka sebaiknya engkaupun mengikuti orang yang melakukan shalat jama’ah
agar engkau mendapatkan pahala berjama’ah dan engkau selamat dari ancaman bagi
orang yang meninggalkannya. Seperti sabda RasuluLlah SAW bolehlah memilih suatu
kaum antara mencegah kaum dari shalat jama’ah atau dibakar rumah mereka. Dan
sebagaimana pula sabda RasuluLlah SAW, “Barang siapa yang mendengar seruan
adzan dan tidak menjawab (dengan shalat berjama’ah) maka tiadalah shalat
baginya”. Dan perkataan sahabat Ibnu Abbas RA, “Sungguh engkau telah melihat
kami dan apa yang tertinggal dibelakang (yakni tertinggal dalam shalat
berjama’ah) melainkan mereka itu munafik .
Dan telah berlaku pada zaman
RasuluLlah SAW tentang perbedaan antara dua orang yang mendapatkan hidayah
yaitu dengan bagaimana sikapnya dalam berdiri di shaf ketika berjama’ah. Dan
manakala hal ini sangat penting dalam masalah meninggalkan shalat berjama’ah,
maka bagaimana pula keadaan orang yang meninggalkan shalat Jum’ah di
mana shalat ini merupakan shalat fardhu. Dan telah bersabda RasuluLlah SAW ,
“Barang siapa yang meninggalkan 3 kali shalat jum’ah karena meremehkannya, maka
Allah akan menutup hatinya .
Apabila engkau memiliki udzur sehingga
meninggalkan jum’ah atau jama’ah maka bandingkanlah seandainya di
tempat engkau tinggal terdapat orang yang membagi-bagikan uang kepada orang
yang hadir kemudian engkau memutuskan untuk mendatangi dan berkeinginan
mendapatkan bagian sehingga meninggalkan jama’ah atau jum’ah ,
maka udzur mu yang demikian ini adalah udzur yang tidak benar. Dan
merasa malulah kepada Allah SWT apabila hasratmu kepada dunia lebih besar dari
pada apa yang ada di sisi Allah. dan ketahuilah bahwa sesungguhnya udzur yang
benar adalah apabila kesempatan untuk berjama’ah memang benar-benar telah
hilang setelah diusahakan dengan sungguh-sungguh. Adapun pahala, maka tidak
akan dihasilkan kecuali dengan melaksanakannya. Benar, bahwa pahala dapat
dihasilkan bagi orang yang udzur dilihat dari beberapa segi, seperti orang yang
udzur shalat berjama’ah karena menghalau musuh dll. Atau ia tidak
memiliki udzur untuk hadlir dalam shalat jama’ah akan tetapi ia berkepentingan
untuk orang islam lain yang mengalami penderitaan yang berat seperti orang yang
menolong kaum muslimin yang kelaparan atau menderita sakit keras dll, maka
orang yang demikian akan mendapatkan pahala berjama’ah.
Kemudian, sesungguhnya orang mukmin
yang sempurna tidak menghendaki akan meninggalkan sesuatu yang dapat
mendekatkan dirinya kepada allah SWT. Meskipun dalam meninggalkannya ia
memiliki 1000 udzur bahkan seandainya ia mengetahui bahwa meninggalkannya lebih
di sukai Allah dari pada mengerjakannya . dari itulah orang yang AhliLlah menyandang
gelar kesempurnaan atas kesanggupannya dalam mengerjakan segala sesuatu untuk
mendekatkan diri kepada Allah dimana gunung-gunung tidak mampu memikulnya.
Adapun orang yang lemah imannya dan
sesikit keyakinannya dan berkurang ma’rifatnya kepada Allah, maka
tiadalah sebab yang membuat mereka meninggalkan fardhu dari Allah. akan tetapi
bagi orang yang mengerjakannya pastilah baginya beberapa derajat dan mereka
tidak akan dianiaya.
Dan wajib bagi kamu membebani
orang-orang yang berada di bawah kekuasaanmu seperti anak-anak, dan isteri, dan
hamba sahaya untuk melakukan shalat. Apabila ada penolakan dari salah satu
diantara mereka , maka wajib bagimu memberi nasihat kepada mereka dan
menakuti mereka. Apabila mereka bertambah penolakannya dalam meninggalkan
shalat maka wajib bagimu untuk memukulnya. Apabila mereka masih tidak mahu
menolak, maka wajib bagi kamu memutuskan hubungan dengannya karena sesungguhnya
orang yang meninggalkan shalat adalah setan yang jauh dari rahmat Allah dan
menghadapkan pada murkaNya dan laknatnya yang dilarang berhubungan dengannya
dan diwajibkan memeranginya bagi setiap orang islam. Bagaimana tidak, sungguh
telah bersabda RasuluLlah SAW, “Perjanjian antara kami dengan mereaka adalah
shalat. Barang siapa yang meninggalkannya sungguh telah menyekutukan Allah. dan
telah bersabda RasuluLlah SAW, “Tidak ada agama bagi orang yang tidak melakukan
shalat. Dan perumpamaan shalat di dalam agama seperti perumaan kepala pada
badan”.
Dan wajib bagi kamu meluangkan waktu
dari segala kesibukan duniawi pada hari jum’ah dan jadikanlah hari yang mulia
ini murni untuk kegiatan akhiratmu. Maka janganlah engkau memiliki kesibukan
pada hari ini melainkan hanya sesuatu amal kebaikan dan hanya menghadap
kehadirat Ilahi dan memperbagus muraqabah (mengintip) akan sa’at Ijabah
yaitu satu saat pada hari jum’ah dimana tiada berjumpa dengannya seorang
muslim dan ia meminta kebaikan kepada Allah atau memohon perlindungan kepadaNya
melainkan di ijabah /dikabulkan baginya.
Dan wajib bagimu sibuk dengan bukuur
(amal kabaikan/dzikir/shalawat dll) hingga waktu shalat jum’ah dan mendekati
mimbar dan diam ketika khutbah dibacakan dan jangan sibukkan diri (ketika
khutbah) dengan berdzikir atau tafakur terlebih bertafakur tentang sesuatu
gurauan, demikian pula takutlah pada saat demikian terhadap hadiitsunnafsi dan
sadarilah bahwa engkaulah yang dimaksud pada setiap apa yang engkau dengarkan
dari beberapa nasihat dan wasiyat. Dan bacalah ketika selesai mengucapkan salam
sedangkan engkau belum mengucapkan sepatah katapun bacaan fatihah,
Al-Ikhlash, Mu’awwidzatain masing-masing 7 kali dan bacalah juga setelah
selesai shalat (SubhanaLlahil ‘Adziim wabihamdih 100 X) maka di dalam
hadits telah diterangkan akan fadhilah semua ini ..wabiLlahi Taufik
FASAL
18
Dan wajib bagi kamu jika kamu
memiliki harta yang harus dibeikan zakat maka keluarkanlah zakat itu. Karena
yang demikian ini akan memperbaiki hatimu, dengan maksud dalam mengeluarkan
zakat teresebut adalah karena Allah,dan menyegerakan pengeluaran itu
tanpa menunda pelaksanaannya. Jika kamu dapat melaksanakan hal ini maka akan
tampak barakah dari hartamu dan akan berlipat ganda bagimu kebaikan dan
jadilah hartamu terpelihara dari segala mara bahaya. Dan wajib bagi kamu
mengumpulkan harta hingga sampai nisab kemudian mengeluarkan zakatnya dan
jauhilah perilaku kebanyakan anak dunia karena diantara mereka ada yang
tidak menyempurnakan hartanya (hingga nisab) sehingga mereka tidak mengeluarkan
zakat. Dan janganlah kamu memakan hasil buah-buahan dan tanaman kamu yang telah
mencapai nishab hingga engkau mengetahui dengan pasti jumlahnya (yang
wajib engkau zakati). Dan ketahuilah sesungguhnya orang yang berkewajiban
mengeluarkan zakat kemudian ia tidak memberikan kepada yang berhak padahal ia
mengetahui, atau ia menggunakan harta itu untuk kesenangan hawa nafsu, seperti
orang yang memberikannya kepada orang lain untuk mendapatkan keuntungan yang
segera, maka tiada sekali-kali ia keluar dari dunia (meninggal) melainkan ia
akan disiksa dengan hartanya itu. Dan sesungguhnya adzab akhirat itu lebih
besar seandainya mereka mengetahui. Jika yang demikian ini keadaan orang yang
mengeluarkan zakat tidak pada tempatnya, maka bagaimana pula keadaan orang yang
yang tidak mau mengeluarkan zakat, mereka itulah orang-orang yang telah membeli
kesesatan dengan petunjuk , maka tiadalah keuntungan bagi perniagaan mereka dan
tiadalah mereka mendaparkan petunjuk. Dan telah berulang kali datang penjelasan
bahwa orang yang tidak mengeluarkan zakat, keadaannya sama seperti orang yang
meninggalkan shalat dalam hal keburukannya. Dan telah berkata Abu Bakar,
mengenai orang yang meninggalkan zakat, beliau menamainya dengan ahlul
riddah (orang yang murtad) na’udzubiLlah min dzalik.
Dan
wjib bagi kamu mengeluarkan zakat fitri untuk dirimu dan untuk orang-orang yang
menjadi tanggunganmu dalam hal nafakah, dan yang demikian ini jika kamu mampu.
Dan
wajib bagi kamu memperbanyak sedekah, dan bersedekahlah pula kepada saudara /
kerabat yang membutuhkan, dan kepada ahlul khair yang kekurangan harta
karena sedekah yang demikian ini dapat membersihkan dirimu dan banyak pahalanya
jika diserahkan kepada mereka.
Dan
wajib bagi kamu bersedekah dengan sesuatu yang engkau cintai dan yang engkau
rasa berat mengeluarkannya agar kamu mendapat kebaikan dari Allah Ta’ala. Telah
berkata Allah Ta’ala, “Tidak akan mendapat kebaikan sehingga engkau mau
menginfakkan harta yang kamu cintai “. Dan terlebih lagi (bersedekah dengan
sesuatu yang) engkau sendiri membutuhkannya. Jika kamu dapat melaksanakan hal
ini maka kamu akan termasuk orang-orang yang beruntung. Dan terlebih lagi
bersedekah secara tersembunyi (tidak diketahui orang lain) karena sadaqatul
asrar dapat meredam amarah Tuhan dan berlipat ganda 70 kali lipat
daripada sadaqah secara terang-terangan, dan selamat dari godaan riya’
yang merusakkan amal .
Dan
jangan lewatkan untuk bersedekah setiap hari dengan sesuatu meskipun sedikit.
Dan jangan engkau sia-sia para peminta-minta yang berdiri di depan pintu
rumahmu meskipun engkau hanya mampu memberikan sebiji kurma apa lagi yang lebih
besar dari itu (kurma). Karena sesungguhnya ia (peminta-minta) adalah
hadiyah/pemberian Allah Ta’ala untukmu. Jika engkau tidak memiliki sesuatu yang
engkau berikan maka tolaklah ia denga cara yang baik dengan tutur kata yang
halus dan janji yang bagus.
Dan
jika engkau memberi sesuatu kepada orang miskin maka perlihatkanlah perasaan
senang kepadanya dan tumbuhkan kesadaran pada dirimu bahwa itu semua itu adalah
suatu keselamatan bagimu dengan diterimanya pemberianmu. Dengan demikian kamu
akan berhasil mendapatkan pahala. Bahkan jika engkau memiliki dunia dan
seisinya niscaya lebih besar dan lebih utama pahala ini. Dan telah datang
penjelasan bahwa terkadang satu suap pahalanya dihadapan Allah Ta’ala lebih
besar daripada gunung uhud.
Dan
janganlah engkau enggan (tidak mau) berzakat karena takut jatuh miskin karena
sesungguhnya zakat itulah yang akan menarik berkah kepada kekayaan . dan
sesungguhnya orang yang meninggalkan zakat itulah sesungguhnya mereka menarik
dirinya kepada kefakiran.
Dan
ketahuilah sesungguhnya pada sedekah terdapat beberapa manfaat baik yang segera
maupun untuk kemudian. Adapun manfaat yang dekat adalah dapat menambah rizki
dan umur dan mencegah mati dalam keadaan buruk dan menyehatkan badan dan
harta menjadi barakah. Dan manfaat jangka panjang adalah dapat melebur
dosa/kesalahan sebagaimana air dapat memadamkan api, dan kelak dapat menjadi
payung di atas kepalanya (tempat berteduh) di hari kiyamat dan menjadi tirai
penghalang dari siksa neraka dan lain-lain manfaat. Dan tidak dapat mengambil
pelajaran akan hal ini kecuali orang-orang yang cerdas dan beruntung.
FASAL
19
Dan wajib bagi kamu memperbanyak
amal kebajikan terutama pada bulan ramadhan karena pahala ibadah sunah
pada bulan ini sebanding dengan pahala ibadah fardhu pada bulan lain.
Dan sesunggunya pada bulan ramadhan sangat banyak dan mudah untuk dihasilkan
amal kebajikan yang tidak dapat dicapai pada bulan-bulan lain. Dan tidak ada
yang dapat menyamai keutamaan bulan ramadhan. Yang demikian ini karena nafsu
yang malas melakukan kebajikan akan terpenjara disebabkan karena lapar
dan haus, dan syaitan yang menghalangi amal baik telah terbelenggu. Dan pintu
neraka tertutup, serta pintu surga terbuka. Dan Penyeru selalu memanggil
pada setiap malam atas perintah Allah, “Wahai orang yang senang kebajikan
kemarilah, dan wahai orang yang gemar akan kejahatan tinggalkanlah.” Dan
selayaknya di bulan ramadhan ktidak memanfaatkan aktifitas melainkan untuk amal
akhirat , dan tidak melakukan kegiatan duniawi kecuali karena keadaan dharurah.
Dan jadikanlah kesibukanmu mencari kehidupan dunia di luar bulan ramadhan
sebagai perantara untuk mendapatkan kelapangan beribadah di bulan ramadhan
terutama pada sepuluh hari terakhir bulan ramadhan dengan memperbanyak iqbal
(menghadap) kepada Allah dan menetapi ibadah kepada-Nya. Dan apabila
memungkinkan bagimu untuk tidak keluar dari masjid pada sepuluh hari terakhir
kecuali untuk keperluan yang tidak dapat ditinggalkan, maka lakukanlah.
Dan wajib bagi kamu
untuk melaksanakan shalat tarawih pada setiap malam di bulan ramadhan. Dan
telah menjadi kebiasaan pada sebagian negeri dengan meringkasnya bahkan sampai
terjadi karena sebab yang demikian (meringkas dan mempercepat shalat) sehingga
meninggalkan sebagian rukun shalat apalagi pada amalan sunahnya.
Dan telah diketahui
bersama amaliyah para ulama salaf bahwa mereka membaca al-Qur’an mulai
dari awal bulan ramadhan sampai akhir ketika shalat. Setiap malam mereka
membacanya sehingga khatam pada beberapa hari pada akhir bulan. Jika
memungkinkan bagimu untuk mengikuti jalan mereka (ulama salaf) maka
lakukanlah. Dan apabila kamu tidak mampu, maka cukupkan dengan menyempurnakan rukun
shalat dan menjaga diri untuk melaksanakannya, dan terlebih lagi pada malam
lailatul qadar yang lebih utama dan lebih baik daripada 1000 bulan.
Malam itu adalah malam barakah dimana pada saat itu diputusakkn segala
urusan. Barang siapa yang dibukakan hatinya sehingga dapat mengalami, merasakan
dan melihatnyanya, maka akan tampaklah baginya bahwa cahayanya sangatlah terang
benderang dan pintu langit terbuka, dan para malaikat terbang naik dan turun
dan terkadang dapat melihat bahwa yang wujud semuanya bersujud kepada
Allah yang menciptakannya. Dan pendapat jumhur ulama mengatakan bahwa
yang demikian ini terjadi pada 10 hari terakhir bulan ramadhan dan terutama
pada malam ganjil. Dan telah disingkapkan pada sebagian ‘aarifiin bahwa
malam tersebut jatuh pada malam 17, demikian pendapat Imam Hasan Al Bashri RA.
Dan berkata pula sebagian ulama, bahwa malam itu terjadi pada malam pertama
bulan ramadhan. Dan menurut pendapat sebagian besar ulama bahwa malam tersebut
tidaklah malam tertentu akan tetapi berganti-ganti pada malam bulan ramadhan.
Mereka berpendapat dengan dirahasiakannya malam lailatul qadar dengan maksud
agar orang mukmin akan bersungguh-sungguh menghadap kepada Allah Ta’ala dan
ta’at kepada-Nya pada setiap malam dengan harapan akan berjumpa dengan malam
yang penuh barakah ini. Dan wajib bagi kamu segera berbuka apabila telah
diyakini tenggelamnya matahari, dan mengakhirkan sahur selama tidak ragu –
ragu. Dan hendaklah memberi makanan untuk berbuka bagi orang yang berpuasa
meskipun hanya dengan sebiji kurma atau seteguk air karena orang yang memberi
makanan kepada orang untuk berbuka puasa pahalanya sama dengan orang yang
berpuasa dan tidak dikurangi sedikitpun dari pahala orang yang berpuasa. Dan
berusahalah agar berbuka atau memberi orang untuk berbuka melainkan dengan
makanan yang halal. Dan
wajib bagi kamu menyedikitkan makan dan menikmati yang ada secara halal tanpa
memilih-milih makanan yang lezat karena maksud puasa adalah melemahkan nafsu.
Sedangkan makanan ayng enak dan lezat tidak dapat menghancurkan hawa nafsu akan
tetapi malah membuatnya
kuat. Dan wajib bagi
kamu melakukan puasa pada hari-hari yang diterangkan dalam syari’at islam
dengan merasa senang untuk melakukannya seperti hari ‘arafah bagi orang
yang tidak pergi haji, dan hari ‘asyura dan tasu’a dan 7 hari
pada bulan syawal dan dimulai setelah hari kedua dari hari ‘id karena
sesungguhnya yang demikian ini sangat besar faedahnya untuk memerangi hawa
nafsu. Dan suatu kebaikan
bagimu untuk berpuasa selama tiga hari pada setiap bulan, karena puasa seperti
ini sama dengan puasa satu tahun. Dan dapat dipilih pula pada ayyamul baidh
maka hal ini lebih utama dan lebih baik karena sesungguhnya RasuluLlah SAW
tidak meninggalkannya baik ketika beliau bepergian maupun di rumah.Dan bagimu
melakukan puasa mutlak tidak terkecuali pada waktu yang utama seperti pada bulan
haram dan hari-hari yang mulia yaitu hari senin dan kamis. Dan ketahuilah
bahwa puasa adalah Quthbu Riyadhah dan asaasul mujaahadah
(Dasar/pondasi) mujahadah. Dan sungguh telah datang penjelasan bahwa puasa
adalah ½ dari sabar. Dan telah bersabda RasuluLlah SAW, “Setiap amal anak
Adam akan dilipat gandakan kebaikannya sepuluh kali sampai 700 kali lipat . berfirman
Allah Ta’ala,”Kecuali puasa, sesungguhnya ia/puasa adalah untuk-Ku dan Aku
sendiri yang akan memberinya pahala. Mereka meninggalkan syahwatnya dan
makanannya dan minumannya karena Aku”. Bagi orang yang berpuasa
akan mendapatkan dua kebahagiaan, pertama ketika berbuka dan kedua ketiak
bertemu Tuhannya. Dan bau mulut orang yang berpuasa adalah lebih harum nilainya
di hadapan Allah SWT daripada minyak misk.Dialah Allah yang berfirman
dengan kebenaran dan Dia pulalah yang menunjukkan jalan yang lurus.
FASAL
20
Dan wajib bagi untuk segera
melaksanakan apa yang difardukan Allah Ta’ala kepadamu pada ibadah haji dan
umrah apabila kamu mampu untuk melaksanakannya, dan jangan sampai kamu
mengakhirkannya hingga kamu lemah/tidak mampu atau meninggal dunia sedangkan
kamu belum melaksanakan, setelah kamu sebenarnya mampu untuk melakukannya. Maka
kamu masih memiliki tanggungan karena kamu tidak melaksanakannya. Dan telah
bersabda RasuluLlah SAW, “Barang siapa yang tidak terhalang oleh hajat yang
jelas, atau terhalang karena sakit yang menahannya, atau karena disebabkan
Sulthan yang jahat, kemudian ia mati dan belum melaksanakan ibadah haji, maka
matilah ia dalam keadaan yahudi atau nasrani”. Dan harus juga kamu
melaksanakan sunah-sunah dalam ibadah haji dan umrah sebagaimana ibadah yang
lain untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.
Dan wajib bagi kamu apabila kamu
telah berkehendak untuk melaksanakan hajji untuk mempelajari wajib haji dan
sunah haji dan beberapa bacaan amaliahnya (dzikirnya), dan mempelajari beberapa
rukhsah dalam perjalanan dan etika dalam bermusafir. Dan
janganlah engkau bermaksud mencampurkan antara ibadah haji dengan niat
berdagang akan tetapi sepatutnya tidak mengikuti engkau sesuatupun untuk
kesenangan duniawi kecuali bekal sekedar mencukupi selama perjalanamu
Dan kalua tidak boleh tidak engkau
harus membawa bekal, maka jauhilah dari sesuatu yang merepotkanmu atau
membuatmu sibuk dari melaksanakan manasik haji dan melalaikanmu dari
meng-agungkan syi’ar Allah sebagaimana yang seharusnya dilakukan oleh orang
yang melaksanakan manasik haji.
Dan
wajib bagi kamu berziarah ke makam RasuluLlah SAW karena menziarahi beliau
ketika sudah wafat sama dengan menziarahi beliau ketika masih hidup, dan
sesungguhnya beliau hidup di dalam kuburnya, demikian pula nabi-nabi yang lain.
Dan termasuk kerugian jika engkau menziarahi BaituLlah dan meninggalkan
berziarah kepada kekasih Allah tanpa uzur. Dan ketahuilah bahwa
jika engkau datang dari pelosok negeri muslim yang sangat jauh untuk (untuk
berziarah kepada RasuluLlah SAW), maka yang demikian ini belumlah memenuhi
syukurmu atas ni’mat hidayah yang diberikan Allah Ta’ala kepadamu melalui
tangan beliau SAW.
Dan
wajib bagi kamu apabila hendak melakukan urusan yang sangat penting seperti shafar
(musafir) atau menikah dan lain sebagainya, hendaklah engkau bermusyawarah
dengan orang yang ahli dalam masalah tersebut diantara saudara-saudaramu. Maka
apabila engkau telah sepakat dengan pendapat mereka, lakukanlah shalat dua
rekaat diluar shalat fardhu dengan niat istikharah dan berdoalah sesudah
shalat dengan do’a yang sudah masyhur. Sebagaimana telah bersabda
RasuluLlah SAW yang artinya, “Tidak akan merugi orang yang beristikharah,
dan tidak akan menyesal orang yang bermusyawarah”.
Dan
wajib bagi kamu apabila kamu memiliki nadzar kepada Allah dengan nadzar
melakukan shalat atau shadaqah atau amalan baik lainnya untuk mendekatkan diri
kepada Allah Ta’ala, maka bersegeralah melaksanakan nadzar tersebut dan
jangan berlama-lama menunda pelaksanaannya karena setan akan menggelincirkanmu
untuk tidak melaksanakan nadzar itu.
Kemudian
apabila kamu bersumpah akan mengerjakan sesuatu amal perbuatan kemudian kamu
melihat bahwa akan lebih baik jika kamu meninggalkannya, kemudian kamu melihat
kembali bahwa lebih baik mengerjakannya, maka bayarlah kafarat atas sumpah itu
dan laksanakan apa yang menurut kamu baik untuk dilakukan. Dan takutlah kamu
mengadakan sumpah atau bersaksi atas dasar persangkaan meskipun itu juga
berdasarkan kebiasaan yang terjadi apalagi hanya atas dasar sesuatu yang
meragukan. Kemudian apabila kamu bersumpah yang menyebabkan pengambilan harta
orang muslim, maka kembalikanlah harta yang telah kamu ambil dan berikan
kafarat artas sumpahmu. Adapun kafaratnya adalah memberi makanan kepada 10
orang miskin, masing-masing satu mud , atau memberi pakaian kepada
mereka atau memerdekakan budak. Apabila kamu tidak mendapati semua itu, maka
berpuasalah tiga hari.
Dan takutlah kamu...takutlah
kamu...sekali lagi takutlah kamu dengan sumpah palsu untuk kejahatan karena
sesungguhnya hal demikian akan menjerumuskan orang yang melakukannya ke dalam
neraka jahanam. Kemudian takutlah dengan sebenar-benar takut untuk bersaksi
palsu karena itu termasuk dosa besar diantara beberapa dosa besar, dan sungguh
RasuluLlah SAW telah menyamakan perbuatan itu dengan menyekutukan Allah
(syirik) kepada Allah Ta’ala. Jika menyembunyikan persaksian itu termasuk dosa
besar, maka bagaimana pendapatmu dengan orang yang bersaksi palsu. Kita memohon
kepada Allah Ta’ala kesentosaan dan keselamatan sebelum kita mendapatkan
penyesalan.